992 views

..Mungkin inilah Kiamat itu…

by
Suasana haru mengiringi kepulangan Marty Pratiwi (kanan). Ia tampak menangis saat Rina, Kakak tertuanya menyambut dan memeluknya saat tiba di Bandara Kualanamu/foto : yudis

Onlinesumut-KUALANAMU : Jam persis menunjukkan pukul 21.40 WIB malam saat pesawat citylink yang terbang dari Balikpapan, mendarat mulus di Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang.

Dengan bawaan barang seadanya, beberapa menit kemudian pasangan ibu dan anak, Salmah Nur dan Marty Pratiwi terlihat keluar dari pintu terminal kedatangan bandara sambil mendorong troli.

Suasana pun mendadak haru. Isak tangis pecah seketika saat keluarga yang selalu harap-harap cemas dan merindukan mereka, menyambut kedatangan keduanya.

Ya, Salmah Nur dan Marty Pratiwi merupakan dua warga asal Medan yang turut menjadi korban peristiwa gempa dengan magnitudo 7,4 Skala Richter dan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu, Donggala dan Sigi.

Marty menetap di Palu hampir 3 tahun di Palu ikut suami yang berdinas disana. Sedangkan Salmah Nur baru 3 minggu di kota itu untuk melepas rindu dengan putri bungsunya itu.

“Alhamdulillah..Alhamdulillah” kata itu berulangkali diucapkan Marty, Rabu (3/10/2018) malam, sebagai ungkapan syukur setelah ia dan sang ibu lolos dari bencana dahsyat yang merenggut ribuan nyawa itu.

Dalam kejadian Jumat, 28 September 2018 jelang Magrib itu, wanita 30 tahun ini mengisahkan, kala itu ia bersama ibunya sedang berada di kediamannya di sebuah komplek perumahan di Jl Karajalemba, Kel. Biroguli, Kec. Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah yang jaraknya sekitar setengah jam perjalanan dari Pantai Talise.

“Waktu itu orang lagi santai nunggu magrib. Itu susulan dari gempa sebelumnya. Susulan. Persis ketika azan, terjadilah gempa besar itu” ucapnya.

Hanya dalam beberapa detik, seluruh perabotan rumah bergeser. Kursi, meja dan lemari seolah berjalan. Piring dan gelas pun berpecahan.

“Kami hanya bisa mengucap. Ya Allah. Tidak tahu harus berbuat apa. Kami berdua hanya bisa pasrah. Karena untuk membuka grendel pintu rumah saja sudah setengah mati hingga akhirnya kami bisa keluar rumah dengan merangkak” ujarnya.

Lapangan terbuka di depan komplek tempat tinggal mereka pun menjadi pilihan untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan akibat guncangan gempa.

“Untuk keluar dari rumah saja juga butuh perjuangan. Karena bumi terus bergoncang. Apalagi jalan-jalan sudah terangkat dan air memancur dari dalam tanah” terangnya.

Tak lagi bisa berfikir jernih. Dalam benak hanya bisa berusaha untuk selamat dari bencana yang sudah mengepung.

“Suara gempanya tak seperti biasanya. Seperti suara dentuman. Kami sempat berfikir mungkin inilah kiamat itu” imbuh wanita yang akrab disapa Wiwik ini dengan mata menerawang.

Di malam kejadian itu, mereka bersama ratusan orang penduduk sekitar pemukimannya terpaksa tidur di jalan beratapkan langit.

“Tak mungkin kembali ke rumah yang sudah retak-retak itu. Takut dan pasrah bercampur aduk. Kami hanya bisa mengucap nama Allah. Apalagi tidak ada kawan berbagi karena listrik padam total. Jaringan telepon juga blank. Enggak bisa berkomunikasi. Padahal kami terus mencoba menghubungi keluarga di Medan” sambungnya.

Rasa takut itupun semakin menjadi-jadi tatkala penjarahan terjadi dimana-mana. Upaya mencari pertolongan pun terpaksa ditunda.

“Pada tanggal 1 Oktober itu sebenarnya jami sudah dapat giliran untuk diterbangkan pesawat hercules keluar Palu. Tujuannya ke Makasar atau Balikpapan. Tapi batal karena pesawat dihadang ratusan warga lainnya yang berlomba minta naik pesawat itu. Padahal sudah dijelaskan muatan hanya 200 orang dan rencananya akan diangkut bertahap. Tapi karena semua warga ngotot mau lebih dahulu, terbang pun batal” urainya.

Malam itu, lanjut Wiwik, mereka bersama ratusan warga lainnya akhirnya tidur di runaway bandara.

“Besoknyalah baru bisa terbang ke Balikpapan. Dan alhamdulillah sangat bersyukur hari ini bisa kembali berkumpul dengan keluarga lagi di Medan” tuturnya.

Meski semuanya telah berlalu, Wiwik mengaku masih belum bisa lepas dari kisah kelam yang dialaminya langsung. “Semoga keberadaan saya di Medan bisa mengobati trauma itu” pungkasnya.

Penulis/Editor : Teuku Yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *