Kadis Kesehatan Madina Syarifuddin saat mengecek bayi yang terlahir cacat dengan mata satu di RSU Panyabungan sebelum meninggal dunia/ist

Onlinesumut-MADINA : Meski tak bertahan lama hingga akhirnya meninggal dunia, kelahiran bayi dalam kondisi tak normal dengan mata satu dan tanpa hidung di Kabupaten Mandailingnatal, Sumatera Utara telah menggegerkan dunia medis tanah air.

Terlebih berdasarkan data, kejadian langka ini baru 7 kali terjadi di Dunia. Terakhirnya kalinya diketahui kasus serupa terjadi di negara Mesir. Naas, semua bayi yang lahir dengan kecacatan ini berakhir meninggal dunia.

Berbagai prediksi secara medis pun muncul, salahsatunya soal indikasi bayi tersebut menderita cylopia syndrome.

Namun Kadis Kesehatan Mandailingnatal, Syarifuddin Nasution nengaku pihaknya belum bisa memastikan penyebab kecacatan pada anak kelima dari seorang ibu bernama Surianti tersebut.

Hanya saja, kata Syarifuddin, beberapa perkiraan yang kini masih diteliti diantaranya terindikasi disebabkan penggunaan obat-obatan dan dampak TORCH (toxoplasma gondii, rubella, cyto megalo virus, herpex simplex virus and other diseases).

“Kami lebih condong kesana (TORCH-red), tapi belum bisa kita pastikan itu ya, karena belum bisa diambil keterangan,” kata Syarifuddin, Jumat (14/9/2018).

Walaupun enggan mereka-reka apakah kecacatan tersebut ada korelasi dengan pekerjaan ayahnya sebagai penambang emas, namun Syarifuddin tak menampik kemungkinan itu tetap ada meski kecil.

Lebih jauh ia juga menjelaskan, lokasi aktifitas penambangan yang menjadi lokasi tempat ayahnya bekerja dengan rumah berjarak sekitar 10 kilometer.

“Mereka kan tinggal di perkotaan, di Kayu Jati, jaraknya jauh, kalau tadi dekat-dekat situ (tambangnya). Mungkin ayahnya gak cuci tangan atau apa, ya bisa saja,” tuturnya.

Sementara, disinggung kasus-kasus anak lahir cacat di Madina, Syarifuddin menyebut tidak terlalu dominan dan belum pernah ditemukan kecacatan dikarenakan dampak pertambangan.

“Kalau selama ini tidak ada, tapi ke depan kita tidak tahu, karena ini kan zat-zat kimia ya,” tepisnya.

Diketahui, bayi cacat dengan mata satu tersebut akhirnya meninggal dunia, Rabu, 13 September 2018 malam, atau sekitar 7 jam setelah dilahirkan.

Di samping kecacatan pada bagian wajah yang menjadi penyebab, bayi malang itu diperkirakan tak bisa bertahan lama akibat gangguan pada organ bagian dalam. Salahsatunya terkait paru-paru yang tak berkembang dan jantung yang mengalami detakan kurang dari 100.

Penulis : Kemala Utari
Editor : Teuku Yudhistira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here