420 views

Akademisi Desak Segera Hentikan Perang Tagar

by
Ilustrasi dua tagar yang kini kerap memperkeruh suasana kehidupan di masyarakat tanah air/ist

Onlinesumut-MEDAN : Tagar alias Tanda Pagar (baca : Hastag) di era ini, nyaris menjadi salahsatu cara bagi sebuah kelompok untuk menunjukkan identitas dirinya. Muncul di dunia maya, penggunaan tagar itu kini mulai meluas hingga ke alam nyata.

Terlebih di masa pemerintahan Joko Widodo, nyaris semua persoalan beraroma pro kontra di republik ini, tagar semakin sering digunakan. Yang paling ‘hot’ saat ini adalah perang tagar #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi. Sehingga sangat memungkinkan, jika situasi ini berpotensi menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Apalagi kemunculan tagar-tagar ini pun kerap berbarengan. Ketika kelompok yang satu membuat agenda, kelompok berseberangan pun tak mau ketinggalan menggelar agenda tandingan. Kalangan akademisi lantas menilai, syahwat politik lewat perang tagar ini hanya bakal memperkeruh dan tidak mendidik di kalangan akar rumput.

“Tagar ini sudah mengental menjadi identitas bagi kedua kubu,” kata Dadang Darmawan Pasaribu, Akademisi dari FISIP USU, Jumat (14/9/2018) petang.

Menurut Dadang, kemunculan wacana tagar ini juga kerap ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Sering terjadi perdebatan absurd di media sosial antara kelompok pendukung atau lawan.

Lantaa belakangan mulai timbul kelompok yang memunculkan isu baru melawan kedua tagar. Mereka berada di tengah. Berusaha menjadi kelompok peredam wacana. Salahsatunya adalah #2019TetapSaudara.

“Jadi saya setuju jika dalam situasi yang sudah keruh ini jangalah lagi diperkeruh. Karena yang menerima dampak itu adalah masyarakat itu sendiri,” tukasnya.

Karena itu Dadang mendesak perang tagar ini harus segera dihentikan. Jika tidak, ada konflik yang berpotensi memecah belah persatuan di masyarakat.

“Harus disetop, masing-masing pihak harus memberikan edukasi politik yang bijak kepada masyarakat. Omong kosong kita ingin mempersatukan diantara kita. Kalau kita sudah mudah dipantik dengan hal-hal seperti ini, justru akan melemahkan fondasi bangsa kita sendiri,” ujarnya.

Aktivis 98 itu juga memaparkan, saat ini masyarakat mulai kehilangan modal sosial. Sehingga persatuan itu semakin lemah. Sehingga dimanfaatkan oleh kepentingan politik yang tidak melihat nilai luhur bangsa.

“Ada disharmoni di dalam masyarakat. Gejala itu sudah terlihat sekarang dan itu sudah ditegaskan oleh para antropolog soal nilai-nilai ke-Indonesia yang sudah minim sekali dimaknai oleh masyarakat kita. Jadi memang harus disetop,” tegasnya.

Penulis : Kemala Utari
Editor : Teuku Yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *