1,103 views

Pemindahan dari RS Pirngadi Jadi Wacana, Orangtua Wahyuni Resah

by
Dewi Sartika Hutauruk, terlihat terus menjaga Wahyuni Aritonang, bayinya yang didiagnosa menderita pembengkakan pembuluh darah/ist

Onlinesumut-MEDAN : Angan-angan keluarga Wahyuni Aritonang, nyaris kembali pupus. Alih-alih berharap sembuh ketika dirujuk dari RSUD Pandan ke RSU dr Pirngadi Medan, nasib bayi berusia 2 bulan penderita pembengkakan pembuluh darah itu justru semakin tak jelas.

Kabarnya, karena peralatan medis yang tak memadai, belakangan muncul wacana yang membuat kedua orangtuanya Frenki Aritonang (34) dan Dewi Sartika Hutauruk (28) khawatir. Wahyuni bakal dirujuk ke RSUPH Adam Malik Medan.

Seperti diketahui sebelumnya, Wahyuni berasal dari Dusun III, Desa Mombang Boru, Kec Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah. Pasca divonis vonis menderita pembengkakan pembuluh darah sejak berusia 2 minggu, kondisinya kian memprihatinkan. Kepala dan kulit leher belakang Wahyuni melepuh dan bernanah. Daun pisang menjadi pengganti alas bantal bagi bayi malang itu.

Sekitar 5 hari yang lalu, secercah harapan kesembuhan Wahyuni sempat muncul, setelah kartu BPJS-nya aktif, Wahyuni akhirnya diberangkatkan ke RS Pirngadi Medan untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Naas, selama hampir sepekan itu pula, Dewi menceritakan selama 5 hari mendapat perawatan intensif di RSUD Pirngadi Medan, kepala Wahyuni sudah diperban dan telah mendapatkan transfusi darah.

“Walaupun kami cuma pakai BPJS kelas 3, tapi Wahyuni sudah mendapatkan penanganan yang lebih baik. Kepalanya sudah diperban dan diganti setiap hari serta tambah darah. Tapi pengecekan secara menyeluruh belum dilakukan, apakah Wahyuni sudah stabil atau belum,” kata Dewi di Ruang Kenanga Lt IV RSUD dr Pirngadi Medan, Rabu (12/9/2018)

“Sudah ada dua kali penambahan darah, pertama 30 cc pada Selasa (11/9)2018) sekitar pukul 14.00 WIB dan kedua tadi pagi penambahan 20 cc darah, sekitar pukul 08.00 WIB serta telah menggunakan infus sebanyak 5 botol,” sambungnya.

Namun, di tengah harapan untuk segera sembuh, ia mendapat informasi bahwa buah hatinya akan dipindahkan ke RSUP Haji Adam Malik Medan. Hal itu diberitahukan oleh dokter Arya selaku dokter bedah plastik yang menangani Wahyuni.

“Dia menyarankan agar Wahyuni dipindahkan ke RS Adam Malik. Alasan karena alat di RSUD Pirngadi tidak memadai. Tapi dia tidak dijelaskan alat apa yang dimaksud tidak memadai itu,” ucap Dewi.

Dewi mengaku sangat takut dan resah seandainya buah hatinya tersebut dipindahkan ke RSUP Haji Adam Malik, lantaran banyak kabar yang berkembang setelah pasien dirawat disana tak lama setelahnya akan berakhir tragis.

“Jujur, kalau dipindahkan ke Adam Malik takut diriku, karena penanganan disana takutnya tidak sesuai. Apalagi dari Kampung banyak yang dirujuk ke Adam Malik tapi penanganan kurang serius dan banyak yang meninggal. Makanya aku takut anakku kenapa-kenapa. Secara enggak langsung kan anakku seolah dibuang kesana,” ujarnya cemas.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan bahwa menurut keterangan dr Arya seandainya dipindahkan ke RSUP Haji Adam Malik, Wahyuni belum bisa dioperasi lantaran masih pemulihan. Artinya, ia masih harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di bagian anak.

“Harapanku, kalau bisa anakku bisa sehat dan semua proses penyembuhan berjalan lancar dan dimudahkan, agar bisa dia kulihat tersenyum,” harapnya.

Seorang suster yang merawat Wahyuni, bernama Resdi Banurea mengaku cukup salut melihat kekuatan badan Wahyuni, walaupun sedang mengalami penyakit serius pembengkakan pembuluh darah.

“Salut aku lihat anak ini, sangat kuat bisa menahan rasa sakit seperti ini, mudah-mudahan semoga ia cepat sembuh,” doanya.

Sementara itu, Kepala Hukum dan Humas RSUD Piringadi Medan Edison Peranginangin saat dicari ditempat kerjanya terkait alasan rencana pemindahan Wahyuni Aritonang ke RSUP Haji Adam Malik, sedang tidak berada ditempat. Menurut keterangan Sekuriti ia sedang pergi dan belum kembali.

Perlu diketahui, Wahyuni mendapatkan penanganan yang cukup baik di RSUD Pirngadi diantaranya kondisi Wahyuni sudah membaik dan kepala sudah tidak bernanah dan berbau lagi. Karena kondisi melepuh mengakibatkan Wahyuni sering kekurangan darah.

Terlebih dengan kondisi kepalanya yang sakit akibat penyumbatan pembuluh darah, hampir setiap malam Wahyuni sering meronta dan harus dikeloni oleh ibunya. Sesekali ia menangis lantaran merasa panas dan sering menderita demam.

Penulis : Kemala Utari
Editor : Teuku Yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *