1,179 views

Cerita Bocah Penyapu Angkot : “Rezeki Manis dari Perihnya Debu”

by
Aktivitas para bocah penyapu angkutan kota. Di saat anak-anak seusia mereka bersekolah, mereka justru harus berjuang mangaiz rezeki untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarganya/foto : yulinda rahimah

Onlinesumut-MEDAN : Bulir peluh terlihat meleleh dikeningnya. Sambil membersihkan lantai Angkutan Kota (Angkot) yang terparkir, bocah itu sesekali terlihat menyeka peluh yang mulai membasahi mukanya.

“Aku sudah 2 tahun disini, yang ngajak bang Dodi (tetangganya yang lebih dulu terjun sebagai penyapu angkot-red),”.

Kata-kata itu meluncur dari mulut mungil Andik, bocah laki-laki berusia 6 penduduk Jl Pertahanan, Patumbak yang sehari-harinya bekerja sebagai penyapu angkot di Terminal Terpadu Amplas.

Bocah-bocah penyapu angkot sejak lama memang menjadi salahsatu pengisi di terminal ‘legendaris’ di Medan itu. Bahkan keberadaannya pun seolah tak terpisahkan dengan lokasi yang identik dengan kerasnya kehidupan.

Layaknya orang-orang dewasa, mereka bisa menghabiskan waktu lama disana demi mengais rezeki. Andik sendiri mulai beraktivitas mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 20.30 WIB.

“Namanya bantu orangtua kak” tuturnya saat disambangi, Minggu (9/9/2018).

Cukup miris. Karena Andik memang bukanlah satu-satunya penyapu angkot berusia belia. Veberapa diantara anak-anak penyapu angkot ada yang masih balita, 4-5 tahun. Keadaan memaksa mereka untuk lebih dewasa dari umur mereka,mengais rezeki dengan saingat anak-anak yang lebih tua dari mereka. Kadang lawannya adalah lelaki dewasa yang mengkoordinir keberadaan anak penyapu angkot.

Tentang Andik, meski umurnya sudah memasuki usia sekolah, tapi hingga kini ia belum juga bersekolah. Kemiskinan membuatnya harus menahan diri untuk mengenyam bangku sekolah. Apalagi ibunya hanya bekerja sebagai buruh cuci, dan ayahnya hanya bekerja sebagai tukang bangunan.

Andik sendiri ingin sekali masuk sekolah, namun sebagai anak paling besar, ia harus tahu diri dan tidak menyusahkan orang tuanya.

” Ibu janji tahun depan aku sekolah, aturannya tahun ini, tapi tabungan ibu belum cukup,apalagi semalam itu tabungannya terpakai untuk melahirkan adekku,” cerita Andik dengan logat Bataknya yang kental, diantara kerumunan para penyapu anggota yang lebih dewasa darinya.

Dari seluruh penghasilanya perhari yang bisa mencapai Rp20.000-Rp35.000, Andik tak lupa menyisihkan uangnya untuk ditabungkan pada ibunya. Dengan harapan,suatu saat nanti uangnya bisa dipergunakan untuk masuk sekolah dan tambah-tambah uang belanja.

Andik mungkin adalah salah satu anak yang masih belum terkontaminasi dengan kerasnya hidup di terminal dan kerasnya persaingan diantara sesama penyapu angkot lainya.

Beda Andik dengan penyapu jalan lainnya adalah, Andik akan pulang kerumahnya jika sudah masuk jam makan siang dan jam 20.30 WIB, jika tidak, maka ia akan dijemput ibu atau ayahnya.

Sedangkan para penyapu angkot lainnya, banyak yang menghabiskan waktu hingga berhari-hari tak pulang kerumahnya, tidur di emperan toko dan di seputaran terminal Amplas, dan selalu menghabiskan uang yang didapat setelah bekerja sebagai penyapu angkot untuk membeli lem kambing dan dihisap beramai-ramai dengan anak-anak penyapu angkot lainnya.

“Aku pernah juga diajak abang-abang itu make lem, tapi pas ku coba,aku malah muntah-muntah, makanya aku tak mau lagi,orang itu dah tau aku tak suka makanya tak pernah diajak lagi. Lagian aku takut nanti pas bapak ma ibuku ke terminal nampaknya aku, bisa dipukuli aku,” terang Andik lagi.

Berbeda dengan Andik, Tomy (13) warga Jalan Bajak V yang sehari-hari berkerja sebagai penyapu angkot ini lebih memilih untuk tidak pulang dan tinggal di jalanan karena ingin bebas. Meski sempat mengenyam bangku pendidikan hingga kelas 3 SD, Tomy enggan melanjutkan pendidikannya.

“Enakan gini, punya uang sendiri dan bebas tak dilarang-larang orang tua,” katanya acuh tak acuh.

Menurut teman-temannya, Tommy pernah beberapa kali dijemput orang tuanya, namun Tomi tetap tidak mau pulang dan bertahan hidup di jalanan. Meski awalnya ia merasa takut, lama kelamaan ia pun mengaku terbiasa dengan kerasnya hidup di jalanan. Bersaing untuk bisa dapat pembeli jasa dengan mereka, dan bertarung melawan tindak kriminal.

Kata Tommy yang sudah hampir 4 tahun lebih jadi penyapu angkot. Dulu saat pertama kali ia menjadi penyapu angkot ia harus bersaing dengan para penyapu angkot lainnya yang terlebih dahulu ada di terminal. Pertarungan mengejar angkot dan adu jotos kadang jadi pilihan untuk bisa bertahan hidup.

Dan biasanya tidak akan ada yang melerai dan membantu mereka di terminal. Meskipun mereka berada di tengah keramaian sopir angkot dan para penumpang yang hilir mudik. Pertarungan dan rebutan lahan seolah menjadi satu syarat untuk membuktikan layak atau tidaknya anak itu berada di Terminal.

“Kalo kalah bakal diejek sama yang lain, kalo menang orang segan sama kita. Tapi itu dulu, sekarang enggak gitu lagi. Karena rata-rata yang jadi penyapu angkot masih saudaraan atau dekat-dekatan rumah jadi nggak parah lagi,” kata Tommy.

Anak-anak penyapu jalan juga sekarang sudah tidak ada yang mengkoordinir seperti 3 tahun lalu. biasanya, anak-anak harus menyetorkan sejumlah uang kepada seseorang yang mengakui dirinya sebagai koordinator anak penyapu jalanan. Jika tidak maka anak itu akan diusir dari terminal untuk selanjutnya akan mendapatkan perlakuan-perlakuan kasar dari anak-anak lama, atas suruhan sang koordinator.

“Sekarang sudah tidak lagi, karena sudah diusir ramai-ramai sama orang-orang terminal. Kasihan anak-anak itu, udah lah saingan dapat objekan, dipalak pula sama di marga manurung itu,” terang Poniyem (55) pemilik warung kopi dikawasan terminal Amplas Medan.

Sayangnya, masih kata Poniyem, anak-anak itu sekarang malah membelanjakan uangnya untuk beli lem dan main game online sampai tak pulang-pulang. Tak jarang diantaranya terlihat tidur di emperan SPBU atau emperan teras rumah orang. Dan akan kembali ke terminal pada pukul 06.00 WIB tau sekira pukul 07.00 WIB untuk melanjutkan pekerjaanya.

Dulu terang Poniyem, hampir separuh dari anak-anak penyapu angkot itu masih bersekolah. Pagi kerja siang masuk sekolah, atau pagi sekolah, siang atau sore baru mereka bekerja.

“Tapi sekarang paling hanya 5-8 orang saja yang bersekolah sambil kerja, selebihnya tidak. Sedangkan jumlah anak penyapu angkot disini hampir 20 orang lebih,” terang Poniyem.

Apalagi beberapa diantaranya sudah punya langganan masing-masing. Tak jarang anak-anak penyapu angkot ini seperti anak gelandangan dan anak terlantar, menghabisakan hari di terminal dan jadikan langit sebagai atapnya. Ironisnya,beberapa diantara mereka bersihkan diri dan mandi ramai-ramai dikamar mandi umum di spbu,dengan sabun dan shampo seadanya dan tanpa ganti pakaian.

“Kadang pulang juga lah, kalo rindu sama mamak, atau kalau ada perlu di rumah. Tapi yah gitu, balik lagi ke mari,” kata Agus (13) salah seorang anak penyapu angkot yang baru saja putus sekolah karena faktor tak ada biaya.***

Penulis : Yulinda Rahimah Siregar
Editor : Teuku Yudhistira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *