Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto menunjukkan seluruh barang bukti sitaan dari lokasi hiburan berkedok penjualan Ice Cream Green milik Salim Wongso dan Julia Lim/ist

Onlinesumut-MEDAN : Pasangan suami istri (pasutri) Pemilik Ice Cream Garden (ICG), Salim Wongso (45) dan Julia Lim (40) yang sudah ditetapkan polisi sebagai tersangka, terancam hukuman berat.

Kendati sejauh ini ini keduanya masih berstatus tahanan luar, namun hari-hari pasutri ini dipastikan tak tenang setelah polisi menjerat mereka dengan Undang-undang Perlindungan Anak karena dinilai telah mengeksploitasi anak secara ekonomi.

Kapolrestabes Medan, Kombes Dadang Hartanto dalam keterangannya mengungkapkan, bahwa polisi menjerat pasangan suami istri itu dengan pasal 88 jo 76 I UU No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Ancamannya 10 tahun penjara,” kata Dadang kepada wartawan dalam paparan yang digelar di Mapolrestabes Medan, Kamis (16/8/2018).

Selain itu, kata Dadang, Salim Wongso dan Julia Lim juga diduga telah melakukan penyelewengan izin usaha dengan membuka tempat hiburan malam berkedok kafe ice cream. Modusnya, pasutri ini menjual beberapa menu makanan di lantai bawah. Namun, dentuman house musik DJ, lampu diskotik bisa dinikmai muda-mudi berusia remaja di lantai 3.

“Pemilik kafe ini menyediakan musik dan lampu disco serta mengundang seorang DJ bayaran agar tamu datang ke kafe ICG. Ketika masuk, para tamu wajib membayar Rp15 ribu/orang dan mendapat 1 botol air mineral merek Himudo,” bebernya.

Didampingi Kasatreskrim, AKBP Putu Yudha Prawira, Dadang juga menyebutkan,
Salim Wongso dan Julia Lim juga mempekerjakan karyawan yang masih belia dan berstatus pelajar. Dua pekerjanya, TBS alias Bayu (17) warga Jalan Sawi No II, Desa Bandar Setia, Kec Percut Sei Tuan dan RA (19) warga Jalan Selamat Ketaren, Desa Medan Estate–yang masih di bawah umur, merupakan korban dalam kasus ini.

“Jadi, pasal yang menjerat kedua tersangka adalah mengenai mempekerjakan anak di bawah umur,” tegas Dadang.

Sementara itu, Salim dan Julia mengaku menyesal saat ditanyai wartawan. “Kami menyesal,” kilahnya.

Pasutri itu juga mengaku, bisnis hiburan khusus anak yang dibuat mirip diskotek itu dimulai mereka sejak 4 bulan lalu.
Menurut Julia, pada waktu itu, awalnya mereka hanya menyediakan arena musik saja. Namun ide itu muncul ketika mereka melihat para pengunjung remaja yang datang ternyata sering menyolokkan kabel speaker ke HP-nya.

“Jadi, kami sediakan sekalian alat musik DJ sekaligus pemainnya,” ungkap Julia.

Ternyata, dengan tambahan alat dan renovasi ruangan di lantai 3 gedung itu cukup ampuh menambah pundi-pundi rupiah bagi mereka.

Setiap harinya, puluhan remaja ramai berkunjung ke ICG yang buka dari pukul 09.00 pagi hingga 01.00 wib dinihari.

“Per hari omsetnya sekitar 2 jutaan. Kalau malam Minggu lebih besar lagi,” aku Salim Wongso. OS-fer/01

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here