20,742 views

Berbagai Hak Tak Dibayar, Puluhan Karyawan Segel Kantor PT CCSI

by
Puluhan pegawai PT CCSI yang sebelumnya melakukan aksi mogok, hari ini Selasa (26/6/2018) melakukan aksi penyegelan kantor sebagai bentuk protes atas sejumlah hak mereka yang tak dibayar/kemala-foto

Onlinesumut-MEDAN : Keberadaan buruh kontrak di tanah air, sepertinya menjadi salahsatu masalah yang hingga kini belum mampu dituntaskan pemerintah. Terlebih ketika muncul konflik, para pekerja berstatus demikian, kerap menjadi pihak yang paling dirugikan.

Inipula yang dirasakan sekitar 45 orang karyawan kontrak PT Cina Conservice Indonesia (CCSI). Mereka terpaksa berjuang untuk mendapatkan berbagai hak yang diduga tak dibayar perusahaan jaringan selular asal Tiongkok itu.

Data yang dihimpun Onlinesumut menyebutkan, sejumlah hak mereka yang diakui para karyawan diabaikan pihak perusahaan sebagai tenaga kerja itu antara lain gaji dipotong, uang lembur tak dibayarkan, Tunjangan Hari Raya (THR) tidak ada dan yang paling parah adalah tidak adanya BPJS Ketenagakerjaan. Padahal kerja mereka tergolong bahaya.

Sebagai bentuk protes, terhitung sejak 2 Juni 2018, para karyawan inipun melakukan aksi mogok. Bahkan pada Selasa (26/6/2018), para karyawan ini nekad melakukan aksi dan menyegel kantor perwakilan perusahaan di sebuah rumah kontrakan di Komplek Perumahan Bumi Asri, Blok G No 52, Jalan Asrama, Medan Helvetia.

Dedi Maulana, salahseorang karyawan kontrak yang mewakili rekan-rekannya menjelaskan, bahwa apa yang mereka rasakan sungguh sangat memperihatinkan.

Padahal di antara mereka, sudah bekerja antara 6 bulan hingga 15 bulan di perusahaan yang dipimpin oleh WNA asal Tiongkok yang tak bisa berbahasa Indonesia antara lain bernama Peng Tao, Levi, dan Zhou.

“Bayangkan, gaji yang semestinya hak kita saja sanggup mereka potong. Belum lagi THR yang sudah menjadi keputusan menteri untuk dibayar berapapun nilainya selama masa kerja, juga tak kita peroleh” kisahnya.

Lebih parah lagi, lanjutnya, pekerjaan mereka yang menantang maut tidak didukung oleh BPJS ketenagakerjaan.

“Kerja kami memanjat tower antara 75 meter hingga 90 meter. Tapi tak ada BPJS Tenagakerja yang menjamin keselamatan kami” terangnya.

Untuk memperjuangkan nasib, mereka pun sudah melaporkan masalah ini ke Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi Sumatera Utara.

“Sudah dua kali kami mendatangi kantor Dinas Tenagakerja, namun hingga kini belum ada hasil” pungkasnya. OS/01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *