DL dan IPS, orangtua Bunga yang diduga menjadi korban tindak pidana asusila remaja tetangganya sendiri saat mencerita kejadian yang menimpa putrinya/foto : ben

Onlinesumut-TAPANULI TENGAH : Kinerja Polres Tapanuli Tengah dalam merespon laporan masyarakat patut dipertanyakan.

Karena di saat jajaran Polri berbenah dan menggelorakan jargon “Promoter”, justru mencuat cerita kekecewaan para korban tindak pidana yang tengah mencari keadilan.

Seperti kisah gadis cilik bernama Bunga (nama samaran) yang mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual misalnya. Kendati peristiwa yang diduga dilakukan tetangganya sendiri itu sudah dilaporkan sejak lama, namun pihak kepolisian setempat seolah ‘Low Respons’.

Cerita ini mencuat dari pengakuan DL (34) ibu korban, saat ditemui dikediamanya di Jl. Padangsidimpuan, Kec. Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng)

Atas peristiwa yang menimpa putrinya, pada 8 Desember 2019 silam, keluarga korban resmi melaporkan sang tetangga berinisial JN pada Kamis, 12 Desember 2019, dengan nomor Surat Tanda Penerimaan Polisi, No STPL/243/XII/2019/SU/RES/TAPTENG/SPKT.

Dijelaskan DL, kisah kelam yang dialami gadis ciliknya itu bermula saat korban kerap bermain ke rumah tetangganya untuk melihat bayi adik JN, remaja yang baru menginjak usia 12 tahun.

Peluang itulah yang diduga membuat pelajar yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Pandan tersebut untuk berbuat jahatm

“Karena saya baru habis kecelakaan saya menjerit manggil anak saya dari rumah tapi belum ada sautan. Jadi ada tetangga yang melihat anak saya dibawa pelaku ke rumah kosong yang biasa disebut rumah hantu oleh warga sekitar,” kisah ibu korban dengan raut wajah sedih.

“Saat itu tidak tau yang dilakukannya sama anak saya di rumah kosong itu, karena tiba-tiba saja mereka dilihat saksi keluarnya dari jendela itu, (JN) dengan menggendong anak saya,” sebut DL, Jum’at (14/2/2020)

Selain terpukul dengan peristiwa tersebut, DL juga memendam kekecewaan atas sikap pihak Polres Tapteng. Karena meski sudah dilaporkan, namun setelah 2 bulan berlalu, belum ada tanda-tanda untuk ditindaklanjuti. Keluarga korban pun sempat bertanya-tanya apakah laporan tersebut diabaikan?

“Apa lantaran kami ini orang miskin yah, makanya baru hari ini olah TKP, melihat dari laporan kami sudah 2 bulan lebih lamanya baru diproses. Dalam olah TKP pelaku juga tidak ada dihadirkan ke lokasi ada apa yah,” ucapnya.

Selain itu IPS ayah korban juga mengutarakan, sehari setelah melaporkan kejadian itu ke Polres Tapteng, Bunga mengaku kesakitan dibagian alat vitalnya saat buang air kecil. Bahkan itu dirasakannya selama satu minggu.

“Memang hasil visum tidak ada kerusakan. Tapi memang ada yang lecet disekitar kemaluan anak kami. Kalau sudah kencing langsung dia mengerang sakit namanya anak kecil pak, kalau bisa hukum harus adil dan setimpalnya. Pelaku juga kami lihat masih berkeliaran di kampung ini, malu kami pak anak kami dilecehkan, apalagi pelakunya masih berkeliaran dikampung ini,” timpal ibu korban lirih.

Sementara, pantauan di lokasi usai olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pihak Unit PPA Polres Tapteng menerangkan akan segera memberikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) kepada korban.

Penulis : Ben
Editor : Yudis

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here