Sejumlah preman yang diduga orang bayaran terdakwa Tansri Chandra tampak menutup ruang persidangan Cakra VI PN Medan/foto : bem

Onlinesumut-MEDAN : Pengadilan Negeri Medan kembali menggelar sidang lanjutan perkara tindak pidana penghinaan di media sosial (medsos) dengan terdakwa Tansri Chandra, seorang pengusaha ternama, Rabu (22/1/2020).

Namun berbeda dengan sebelumnya, persidangan yang digelar di Ruang Cakra VI beragenda mendengarkan keterangan saksi ini cukup menarik perhatian.

Bukan karena materi sidang. Akan tetapi ada pemandangan berbeda karena hadirnya sejumlah pria berbadan tegap yang diduga preman bayaran hadir ke ruang persidangan.

Entah apa maksudnya, namun kehadiran orang-orang itu yang jumlahnya lebih dari 6 orang, seolah sengaja dihadirkan untuk menghalangi wartawan melakukan peliputan di ruangan yang ukurannya relatif kecil.

Pengusaha terkenal asal Kota Medan Tansri Chandra alias Tan Ben Chong (73) menjalani sidang perdana kasus ITE pencemaran nama baik melalui grup WhatsApp/foto : bem

Indikasi itu terlihat karena mereka seperti sengaja memblokade pintu ruang sidang sehingga wartawan kesulitan masuk melakukan peliputan sidang yang terbuka untuk umum itu

Untuk menghindari keributan, para wartawan lebih memilih mencari celah lain untuk bisa mengabadikan momen persidangan yang cukup menarik perhatian itu.

Sementara, dalam sidang kedua ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi yang dihadirkan korban.

Sementara, usai persidangan, penasehat hukum korban, Japansen Sinaga kembali membeberkan perkara yang ditudingnya telah mencoreng nama baik kliennya.

“Di grup WhatsApp marga Tan, terdakwa telah menyebarkan fitnah dan menuduh kliennya merampok,” paparnya.

Dijadwalkan, sidang akan dilanjutkan pada Rabu pekan depan dengan agenda serupa, menghadirkan saksi lainnya.

Seperti diketahui, terdakwa Tansri Chandra alias Tan Ben Chong (73), seorang pengusaha terkenal asal Kota Medan, dijerat UU Informasi Transaksi Elekteronik (ITE) dalam perkara pencemaran nama baik yang disebarkannya lewar Grup WhatsApp.

Penduduk Jl. Gandhi No. 14/124, Kel. Sei Rengas I, Kec. Medan Kota tersebut, didakwa melakukan penghinaan terhadap korban bernama Tony Harsono.

Sebelumnya, dalam sidang agenda dakwaan, JPU Edmond N. Purba menjerat terdakwa Tansri Chandra dengan pasal 27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (3) UU RI No 19 tahun 2016 Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE subs pasal 310 ayat (2) KUHPidana.

Dalam sidang beragenda dakwaan itu, JPU Edmon menyebutkan, perkara itu mencuat lewat grup WhatsApp Yayasan Sosial Lautan Mulia, yang didalamnya turut bergabung saksi korban Tony Harsono dan terdakwa Tansri Chandra.

Diketahui pula, saksi korban Tony Harsono menjabat sebagai Penasehat Yayasan dan terdakwa Tansri Chandra menjabat sebagai Ketua Yayasan.

Pada tanggal 16 Maret 2019, terdakwa Tansri Chandra diketahui telah mengirim pesan kalimat dan foto ke grup WhatsApp Yayasan Sosial Lautan Mulia berisikan

‘Tony harsono, wataknya prima, IQ tinggi, alias aseng tukang bakar, kalau pake dijalan jadi Profesor, merampok uang IT&B Rp 300 juta, kalau dilihat tampang nya seperti SUHU, dia tahu kalau uang ini Rp300 juta uang haram,” ucap JPU Edmond Purba dihadapan majelis hakim Erintuah Damanik saat membacakan isi postingan terdakwa.

Di dalam grup WhatsApp, Tansri Chandra juga menuliskan ‘Jadi takut dihukum maka diutus sekretaris nona cantik yang ambil uang haram Rp300 juta untuk muat berita di Koran seharusnya Tony Harsono dkk (karena tan posing suka tonjol di depan, jadi dibujuk pake nama tan poseng), si Tony Harsono tahu IT&B, ini kampus untuk anak2 tuntut ilmu, jadi sekolah diganggu tidak etis.

“Untuk jaga nama baik Tony Harsono (aseng tukang bakar) dan juga sebagai ketua yayasan elit, dan juga ketua tempat ibadah Budha, jadi si tan posing dipasang untuk hadang supaya IT&B jatuh/bangkrut, pada hal IT&B lama tambah maju dan tambah prima dan kuat, sekarang IT&B ditingkatkan ranking, oleh menteri pendidikan dari setingkat S1, dinaikan tingkatan menjadi INSTITUT (dapat program S2) ini suatu penghargaan tertinggi dari menteri pendidikan, kalau G6.”

Ada maksud jahat tidak dapat melawan orang yang patriot, ingat orang jahat yang merampok uang IT&B, tidak bisa dapat dukungan masyarakat, merampok uang IT&B bersumpah di pengadilan itu diambil dari uang pinjaman, sehingga Hakim pun percaya, karena yang bersumpah itu adalah biksu/suhu.

Hakim hanya melihat itu kepala botak, mungkin Hakim keliru yang botak itu biksu, ingat yang mau menjatuhkan IT&B, ada 6 orang (G6) yaitu saksi korban Tony Harsono, saksi Tedy Sutrisno Alias Tan Cong Bin, saksi Gani Alias Tan Cang Ching, saksi James Tantono Alias Tan Po Seng, saksi Anwar Susanto dan Tamin Sukardi nanti masyarakat akan menilai apa sikerjaan G6 yang watak jahat,” tulis terdakwa.

Tak hanya itu, terdakwa pada tanggal 16 April juga mengirim gambar dan tulisan kalimat “INGAT G6. MERAMPOK UANG IT&B JUMLAH RP 2,4 miliar di grup WhatsApp YS Lautan Mulia. YA CUKUP BELI MOBIL MEWAH.

Penulis : Bempan
Editor : Yudis

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here