Masyarakat Kampung Muallaf di Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kec. Kutalimbaru, Kab. Deliserdang, tampak bahagia mendapat bantuan dari ACT-MRI Sumut/foto : ist

Onlinesumut-KUTALIMBARU : Melewati jalan berbatu kerikil cadas dan batu besar yang menghadang, menempuh jalur beresiko yang rentan longsor, mendaki bukit dan menuruni lembah serta lereng Gunung Sibayak dalam zona kawasan hutan lindung, merupakan agenda keseharian Ustadz Ulil Albab Habibullah Lubis, SE.

Bersama sang istri Irmawati S.Pd, alumni Ponpes Hidayatullah Tanjungmorawa atau yang biasa disapa Ustad Habib itu, tetap istiqomah mengawal syiar Islam, tepatnya di Kampung Lau Gedang, Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kec. Kutalimbaru, Kab. Deliserdang, dimana umat Islam merupakan kelompok minoritas.

Hampir dua tahun ini ustadz berusia 28 tahun ini mampu mensyahadatkan dan membina 9 KK muallaf serta Muslim Karo yang sudah lama menetap di Kampung Lau Gedang, sebuah kampung yang berada di zona Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan diapit 2 kabupaten yakni Langkat dan Karo, dipagari oleh bukit barisan yang mengelilingi serta Gunung Sibayak yang kokoh menjaga kampung ini.

Mata pencaharian warga Lau Gedang umumnya adalah petani kopi. Dari sinilah kopi-kopi Tanah Karo ikut mengharumi nama Sumatera Utara di kancah perkopian tanah air.

Ustad Habib, setiap harinya menempuh 45 menit perjalanan dengan sepeda motornya, baik pagi, siang maupun malam. Ayah dari Zahid (3 tahun) ini tetap konsisten dalam mengawal cahaya Islam di lereng Sibayak ini, meski harus mondar mandir dari tempat tinggalnya di Pondok Yatim di Lau Tengah, Brastagi menuju Kampung Lau Gedang.

Pria kelahiran 1992 ini, harus terpaksa bolak-balik meninggalkan pondok Yatim yang dikelolanya di Berastagi, untuk membina dan pertahankan cahaya Islam di kampung yang berpenduduk ratusan jiwa ini.

ACT-MRI Salurkan Bantuan

Relawan ACT-MRI Sumut tampak bercengkrama dengan masyarakat Kampung Muallaf di Lereng Sibayak/foto : ist

Berdasarkan assessment 2 pekan sebelumnya, ACT-MRI Sumut mengirimkan bantuan paket pangan untuk warga Kampung Lau Gedang, sebanyak 38 paket yang berisikan, mie kering, kecap, teh, gula, minyak makan, biskuit, dan handuk kecil.

Tim pun juga ikut merasakan jalur ekstrim yang dilalui Ustad Habib sehari-hari menuju Lau Gedang. Untung saja tim yang turun mengendarai roda empat dengan gardang ganda, sehingga melewati jalur ekstrim itu tidak begitu berat, meski tetap saja cukup melelahkan bagi tim melewati jalur yang tak biasa dilewati ini.

Tiba di Kampung Lau Gedang, Sabtu.18 Januari 2020 kemarin, tim ACT-MRI Sumut disambut dengan bahagia oleh warga disana. Di halaman Masjid kecil yang berbentuk rumah panggung, perwakilan kaum ibu dan anak-anak Lau Gedang sudah menanti tim disana.

Pasokan bantuan dari relawan ACT-MRI Sumun tibda di Lau Gedang/foto : ist

Beberapa paket yang telah dibawa pun segera diturunkan dari kendaraan, dan langsung dibagikan ditempat oleh tim ACT-MRI Sumut. Jumlah paket yang dibagikan pun sama dengan jumlah KK yang ada disana, paket ini berasal dari donatur yang ada di Kota Medan.

Rona kebahagian tampak terpancar diwajah para ibu, begitu pula dengan anak-anak disana. Kebahagiaan akan perhatian yang diberikan oleh saudara seiman diluar kampung. Mereka pun merasa masih memiliki saudara lainnya yang peduli terhadap keprihatinan hidup mereka.

Disela-sela pembagian paket, Habib menjelaskan sebelum dirinya hadir kondisi di Lau Gedang, kondisi kampung ini sangat memperihatinkan dan butuh uluran tangan saudara sesama muslim, karena Pembina (guru) agama, pendidikan, ekonomi, sosial dan sarana kesehatan yang tidak ada.

Terkhusus untuk bersalin, jarak tempuh dan kondisi jalan yang ekstrim membuat beberapa kasus kematian bayi yang gagal lahir normal disini.

“Ada tiga bayi yang meninggal, selama saya ada di kampung ini, karena sulitnya mendapatkan fasilitas bersalin dan kesehatan lainnya,” jelas Habib.

Tim ACT disana, juga sempat mengunjungi lahan yang rencananya akan dibangun pondok pesantren. Ada 1 hektar lahan yang diwakafkan oleh donatur yang dihibahkan ke Ustad Habib untuk dijadikan rumah baca dan pondok pesantren.

Lahan yang berada di perkebunan kopi ini cukup cocok dijadikan rumah baca, ponpes, maupun rumah tahfiz. Didukung pula dengan lingkungan perkebunan asri dan udara sejuk, yang mungkin membuat santri akan merasakan kenyamanan dalam menimba ilmu.

Belum Teraliri Listrik

Kampung ini juga kesulitan listrik, karena akses untuk pemasangan tiang dan kabel-kabel listrik cukup berat mengingat medan yang cukup esktrim.

Untung saja, masyarakat Muslim disana patungan setiap bulannya ada iuran sebesar Rp.100.000,- per KK, sehingga uang yang terkumpul mampu untuk membeli solar operational generator set yang di operational kan oleh BKM Masjid Nurul Yaqin yang ada di Lau Gedang.

Hanya saja, soal iuran ini pun masyarakat tidak sepenuhnya mematuhinya, dikarenakan perekonomian mereka pun tidak begitu baik.

“Untuk memenuhi makan sehari-hari saja sudah syukur bang, konon lagi harus ada iuran, begitu kata masyarakat,” jelas Hasan salah satu warga kampung yang juga anggota BKM Masjid Nurul Yaqin Lau Gedang.

Adapun upaya yang dilakukan masyarakat untuk memenuh kebutuhan energi listrik, dulunya pernah dibuat bendungan kecil untuk pengadaan pembangkit listrik tenaga air sederhana dengan menggunakan air, namun berhubung dana patungan yang didapat secara menyicil dari warga dan pengurusnya pun meninggal dunia, akhirnya proyek kecil-kecilan warga ini pun terbengkalai.

Pihak PLN pun pernah menjanjikan untuk membantu mewujudkannya, namun sampai saat ini belum juga terealisasikan.
Saat ini warga Lau Gedang memang benar-benar membutuhkan bantuan saudara muslim yang ada di Sumatera Utara. Banyak yang dibutuhkan saat ini.

Selain sarana dan prasarana desa, baik berupa infrastruktur jalan dan fasilitas umum lainnya seperti puskesmas. Untuk membantu akses distribusi bahan perkebunan yang untuk menopang perekonomian desa, warga saat ini benar-benar membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk perbaikan jalan, seperti pelebaran jalan dan pemadatan, ataupun pengaspalan jalan.

“Harapannya, dengan akses jalan yang baik, akan meringankan langkah para donator untuk bisa memperhatikan dan mengantarkan bantuannya ke warga Muslim Muallaf yang ada di Lau Gedang ini,” kata Ustad Habib.

Saat ini, selain yang disampaikannya tadi, warga juga membutuhkan bimbingan rohani, baik berupa fasilitas ibadah yang memadai, penerangan untuk Masjid, toa pengeras suara untuk azan, air bersih untuk berwudhu, serta tambahan guru mengaji yang bisa mengajarkan secara rutin di Masjid

“Karena kalau dilakukan secara bersama-sama tentunya dakwah Islam di kampung Lereng Sibayak akan semakin gemilang,” harapnya.

Pondok Yatim Anak-anak Muallaf

Relawan ACT-MRI Sumut turut menyalurkan bantuan kepada Pondok Yatim/foto : ist

Selain memberikan bantuan paket pangan di Kampung Lau Gedang, ACT MRI Sumut juga mendistribusikan paket pangan ke Pondok Yatim yang dikelola oleh Ustad Habib, di Desa Lau Tengah Berastagi.

Disinilah ustad bersama isterinya mendidik dan merawat para anak Yatim Muallaf dari Kampung Lau Gedang dibina sejak dini, dan diajarkan Islam selayaknya Santri. Bahkan ada orang tuanya yang keduanya masih hidup dan beragama Non Muslim, menitipkan anaknya untuk diajarkan Islam oleh Ustad Habib dan isterinya.

Kini kedua anak yang berbeda KK ini pun, sudah bisa baca Quran walau masih mengenal huruf-huruf hijaiyah, dan sudah tau tata cara berwudhu dan salat yang baik. Dirumah yang diwakaf pakaikan oleh seorang Dokter dermawan yang isterinya juga mualaf, belasan anak-anak Muslim Muallaf Lau Gedang ini kini dirawat dan dibesarkan oleh Ustad Habib, tanpa dikenakan biaya apapun.

Baik sandang dan pangannya semuanya diraihnya dari bantuan para donatur dan swadaya masyarakat muslim Karo sekitarnya.

Walau paket pangan yang diberikan ACT-MRI SUmut tidak seberapa harapannya mampu meringankan beban Ustadz Habib dan isterinya untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak didiknya di Pondok Yatim ini.

Editor : Yudis/ril

 

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here