Aksi Silent Act sambil menutup mata sebelah dalam aksi menolak proyek revitalisasi TIM berbau komersialisasi yang digelar oleh ratusan seniman Jabodetabek dan dari beberapa wilayah di tanah air/foto : ist

Onlinesumut-JAKARTA : Para Seniman Indonesia yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM), kembali turun ke jalan, Jum’at (17/1/2020)

Mengusung isu serupa dengan demonstrasi sebelumnya, dalam aksi yang mereka gelar di Trotoar Jl. Cikini Raya, depan PKJ TIM, Menteng, Jakarta Pusat itu, para seniman kembali menyuarakan protes mereka terhadap proyek revitalisasi TIM yang melibatkan pihak swasta.

Aksi protes para seniman dari berbagai latar keahlian seni ini, dikemas dalam bentuk diam tanpa suara atau senyap (Silent Act) sambil memegang poster yang berisi aspirasi mereka dan menutup mata sebelah.

Seperti diketahui, kebijakan Revitalisasi TIM oleh Pemprov DKI Jakarta yang menelan biaya mencapai Rp1,8 triliun yang merupakan modal penyertaan Pemprov pada PT Jakarta Propertindo (Jakpro), telah mengusik para seniman.

Bagi pelaku seni ini, penyertaan modal dan penunjukan PT Jakpro yang kelak akan mengelola TIM dengn fasilitas Hotel Bintang 5 secara komersil, merupakan pangkal masalah.

Revitalisasi TIM dengan pembiayaan pemodal walaupun berstatus BUMD, menjadikan warisan kebudayaan itu sebagai lahan ajang komersialisasi.

Artinya menurut mereka, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah membangun pondasi yang kuat bagi kaum kapitalis sekaligus menancapkan kukunya dalam kehidupan berkesenian dan berkebudayaan.

Padahal menurut mereka, seni dan budaya bangsa adalah bangunan harkat dan martabat serta peradaban yang semestinya dibebankan pada keuangan negara. Bukan dari belas kasihan para pemodal kapitalisme.

Dalam konteks itulah para seniman terus menyuarakan penolakan atas kebijakan yang dinilai mematikan esensi kesenian dan kebudayaan bangsa dalam bentuk aksi-aksi mereka

Tak hanya di seputar TIM, di tengah hujan yang megguyur, ratusan seniman ini juga menggelar aksi dengan tuntutan yang sama ke Balaikota di Jl. Medan Merdeka Selatan mendesak Gubernur Anies segera menyahuti aspirasi mereka.

Pantauan di lokasi aksi, bukan hanya seniman yang berdomisili Jakarta, seniman Jabodetabek, bahkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat pun turut turun ke jalan menyuarakan keresahan mereka terhadap nasib TIM yang selama ini menjadi ikon seniman tanah air.

“Kami bersyukur Silent Act kali ini berjalan lancar. Terimakasih atas kehadiran teman-teman seniman yang menyempatkan hadir. Apalagi yang jauh-jauh datang dari Jatim, Bekasi, Tangerang, dan Bandung,” ujar Gultom, koordinator lapangan aksi.

Sementara, Tatan Daniel mengapresiasi soliditas para seniman yang terus terjaga dalam memprotes revitalisasi yang sarat muatan komersil.

“Semoga kebersamaan ini terus berlanjut hingga apa yang kita perjuangkan tercapai. Intinya kita minta marwah TIM sebagai pusat kebudayaan dikembalikan. Tidak dijadikan lahan fasilitas bangunan mewah komersil,” harap Koordinator Forum Seniman Peduli TIM itu.

“Kita akan terus menggelar aksi ini hingga Jakpro hengkang dan Pergub 63 Itu dicabut,” imbuhnya.

Senada dengan Tatan Daniel, pada kesempatan yang sama, David Karo-karo, Agam dan Mogan Pasaribu menyampaikan bahwa mereka tidak akan pernah surut dan terus melakukan Silent Act itu hingga tuntutan mereka didengarkan pihak Pemda DKI Jakarta.

Kegiatan yang dikawal petugas keamanan itu berjalan lancar dan damai. Dimulai sekitar 16.00 WIB dan berakhir pada pukul 17.30 petang.

Usai melakukan aksi sore itu, para seniman melanjutkan diskusi dan evaluasi perkembangan atas aspirasi dan tuntutan mereka. Bertempat di depan Posko#SaveTIM yang berada dalam kompleks PKJ TIM, mereka duduk melingkar dan bertukar pandangan.

Penulis : Rina Doremi
Editor : Yudis

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here