Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto menginterogasi 3 pelaku trafficking yang kerap mengincar anak di bawah umur untuk dipekerjakan ke lokasi hiburan karaoke dan spa plus-plus di Malaysia/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Tim Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Medan, membongkar sindikat perdagangan anak di bawah umur antar negara yang rencananya akan dijual dan dipekerjakan di lokasi hiburan Karaoke dan Spa penyedia jasa ‘plus-plus’ di negeri jiran Malaysia.

Dalam pengungkapan kasus ini, 3 orang pelaku masing-masing Nurbeitti alias Mami (40) warga Jl. Purwosari, Komplek Pelangi Asri, Kel. Pulo Brayan Bengkel, Rudi Syahfril Lubis (41) warga Dusun 4, Kel. Sei Apung, Kec. Tanjungbalai, Kab. Asahan dan Joni Markus (37), penduduk Gang Wahidin, Kel. Bintan, Kec. Dumai, Provinsi Riau, berhasil diringkus di dua lokasi berbeda.

Informasi dari pihak kepolisian menyebutkan, penangkapan terhadap ketiga tersangka Nurbeitti alias Mami yang menjadi target utama, bisa ditangkap setelah sebelumnya petugas menginterograsi seorang wanita berinisial EMK yang sudah tertangkap sebelumnya setelah terdeteksi masuk dalam jaringan sindikat ini.

Sedangkan dua tersangka lain diringkus di Jl. Sisingamangaraja, di pool bus Bintang Utara.

Kapolrestabes Medan, Kombes Dadang Hartanto menjelaskan, terungkapnya kasus perdagangan anak ini berawal dari pengaduan RM, orang tua salah seorang korban yang membuat laporan tentang anaknya yang sudah sebulan tak pulang ke rumah. Dari hasil konseling, alur seputar menghilangnya putri pelapor terungkap.

“Setelah kita lakukan penyelidikan, ternyata ada pihak-pihak yang dicurigai dan patut diduga kuat Nurbeitti yang sebelumnya sempat melakukan penawaran kepada pelapor yang menjanjikan putrinya akan diberi pekerjaan di sebuah restoran di Malaysia dengan gaji tinggi,” urai Dadang dalam paparannya di Mapolrestabes Medan, Senin (16/12/2019).

Didampingi Kasatreskrim Kompol Eko Hartanto dan Wakasatreskrim Kompol Aron Siahaan, Dadang menjelaskan, dari hasil penyelidikan terlacak bahwa anak tersebut dibawa ke Tanjungbalai yang difasilitasi oleh tersangka Rudi Syafril Lubis.

“Saat dikejar kesana (Tanjungbalai), ternyata mereka sudah bergerak ke Dumai dibawa oleh tersangka Joni Markus. Setelah dikejar ke Dumai ternyata mereka sudah balik ke Medan. Dan setelah di Medan kita berhasil menangkap para pelaku pada hari Jum’at, 13 Desember 2019 sekitar pukul 06.30 WIB. Selanjutnya para tersangka dibawa ke unit PPA Polrestabess Medan untuk dilakukan proses hukum,” paparnya.

Lebih jauh Dadang mengatakan, dari proses penyidikan terungkap fakta bahwa N berperan merekrut para anak yang menjadi korban dengan cara bujuk rayu yang di iming-imingi akan dipekerjakan di Spa plus-plus dengan gaji Rp21.000.000 perhari dan bila ada pelanggan yang meminta pelayanan plus akan diberi uang tambahan.

“Tersangka Nurbeitti bertugas merekrut EMT untuk mempermisikan korban berinisial FS dan FF pada orang tuanya untuk di pekerjakan di Malaysia. Rudi Syahril Lubis diberi tugas oleh Nurbeitti untuk menjemput dan mengantarkan anak korban ke Tanjungbalai dan Dumai. Sedangkan pelaku Joni Markus bertugas menyewakan kamar di Hotel Horizona, Kota Dumai untuk tempat tinggal sementara sambil menunggu pengurusan dan dokumen untuk diberangkatkan ke Malaysia,” terangnya.

Dari hasil kejahatan itu, tersangka Nurbeitti mendapatkan keuntungan Rp3.500.000, Rudi Syahril Lubis Rp33.000.000 dan Joni Markus Rp10.000.000.

“Para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) UU RI No 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang atau Pasal 83 Jo 76 F UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,” pungkas Dadang Hartanto.

Penulis/Editor : Chairul

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here