Tersangka Zul, penarik betor yang ditangkap BNN setelah terbukti masuk dalam jaringan sindikat narkoba internasional yang memiliki 60 Kg sabu asal Malaysia/foto : ist

Onlinesumut-PERCUT SEITUAN : Setelah melakukan penggerebak pada Selasa, 10 Desember 2019 kemarin, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI merilis hasil penangkapan narkoba jenis sabu di kantor BNNP Sumut, Jl Williem Iskandar, Kec Percut Sei Tuan, Kab. Deliserdang.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, petugas menyita 50 bungkus narkoba jenis sabu terbungkus kemasan teh Cina yang diperkirakan beratnya mencapai 60 hingga 70 Kg. Turut pula disita uang tunai sebesar Rp60 juta.

“Total barang bukti ada 50 bungkus yang diperkirakan beratnya 60 hingga 70 kg brutto. Kemudian, uang tunai sebanyak Rp 60 juta,” kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI, Irjen Arman Depari dalam keterangannya di kantor BNNP Sumut, Rabu (11/12/2019).

Arman menjelaskan barang bukti tersebut hasil tangkapan pihaknya di dua lokasi terpisah. Pertama, petugas melakukan penangkapan terhadap tersangka Zul, di Jl. Letda Sujono, Kec. Medan Tembung bersama barang bukti dua kilogram sabu yang dibawa menggunakan becak motor.

Selanjutnya, dilakukan pengembangan ke rumahnya di Jl. Pertiwi, Kel. Bantan, Kec. Medan Tembung. Petugas dibantu anjing K-9, melakukan penggeledahan di dua rumah di lokasi tersebut. Petugas berhasil mengamankan lagi narkotika jenis sabu.

“Sebelumnya, kita juga sudah melakukan penangkapan di Jl. Letda Sujono bersama barang bukti 2 kilogram sabu yang dibawa tersangka menggunakan becak motor. Nah, setelah penangkapan tersebut, kemudian kita mengembangkan ke rumahnya di Tembung. Di dua rumah tersebut kita lakukan penggeledahan dibantu dengan anjing dan ternyata kita temukan lagi barang bukti narkoba di dalam lemari dengan wadah koper, tas, kardus dan plastik. Kita juga menemukan uang tunai,” sebut Arman.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari memaparkan hasil tangkapan 60 Kg sabu asal Malaysia di Medan Tembung/foto : ist

Arman melihat selama ini bahwa narkoba yang masuk ke Indonesia hampir seluruhnya berasal dari Malaysia. Dan kali ini pun, sumbernya dari Malaysia.

“Yang dibawa melalui jalur laut menggunakan kapal kayu, diserahterimakan di tengah laut dari sindikat internasional dari Malaysia, kepada sindikat lokal dan dibawa ke Tanjungbalai. Dari Tanjungbalai kemudian disimpan di gudang di TKP yang kita lakukan penggeledahan kemarin,” tambah Arman.

Arman menjelaskan modus operandi yang dilakukan dari jalur laut memang sudah sering terjadi. Tapi, temuan kali ini berbeda.

“Kali ini ada sesuatu yang kita lihat, kelihatannya berbeda, ternyata tersangka atas nama Zul yang sudah kita tangkap itu bukan hanya sekadar berperan sebagai penyimpan atau gudang. Dia juga ditunjuk untuk mengedarkan, sebagai transporter, dan juga mengecer atau menjual dalam partai-partai kecil dengan menggunakan becak motor seperti yang kita lihat seolah-olah seperti belanja ke pasar,” tambah Arman.

“Dan narkoba yang dibawa berada di keranjang yang diletakkan di kiri-kanan becak tersebut. Nah, kenapa saya simpulkan yang bersangkutan ini juga sekaligus pengecer. Kalau dilihat dari uang ini, terlihat pecahan kecil-kecil. Artinya, nilai nominalnya itu tidak begitu besar. Ini menandakan, bahwa yang bersangkutan juga adalah menjual langsung kepada pengguna-pengguna di masyarakat,” ujar Arman.

Dengan demikian, peredaran narkoba di tengah-tengah masyarakat bukan hanya di tempat- tempat hiburan namun juga di perkampungan. Ini perlu perhatian, karena Sumatera Utara merupakan pengguna terbesar nomor dua di Indonesia.

“Ini menjadi perhatian kita semua, karena Sumatera Utara, merupakan pengguna nomor dua di Indonesia. Dan Medan, adalah salah satu gudang yang terbanyak narkoba untuk dikirim ke wilayah-wilayah Indonesia. Ini harus jadi perhatian, masyarakat dan pejabat di Medan dan Sumatera Utara, jangan hanya banyak pungli dan korupsi,” tegas Arman.

Untuk kali ini, modusnya baru walau tidak baru sekali. Biasanya disimpan di apartemen, gudang, hotel atau pemukiman yang ekslusif.

“Ini saya kira modus baru walaupun tidak baru sekali. Biasanya disimpan di apartemen, gudang, hotel atau pemukiman-pemukiman yang ekslusif. Nah, ini ditempatnya di kampung atau rumah-rumah yang tidak menjadi perhatian dari aparat,” tambah Arman.

“Yang jelas kalau kita lihat barang bukti yang kita sita ini, dari kemasannya saja kita tahu itu dari pabrik yang sama dari tangkapan kita sebelumnya. Tentunya, kita cek juga lagi nanti di laboraturium. Untuk tersangka lainnya juga kita sudah tau, masih dalam pengejaran kita. Ada juga keterkaitan dengan LP. LP masih masuk dalam perhatian kita. Ada beberapa orang lagi yang kita kejar, paling tidak empat orang lagi,” pungkas Arman.

Penulis : Buwas
Editor : Yudis

 

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here