Anggota DPR RI Sihar Sitorus saat berdiskusi dengan rekan-rekannya di parlemen/foto : ist

Onlinesumut-JAKARTA : Sampai saat ini sudah lebih dari 4000 ekor babi di Sumatera Utara yang mati akibat virus ‘Hog Cholera’ yang dikenal sebagai classical swine fever (CSF) atau penyakit menular pada babi.

CSF juga ditemukan di berbagai belahan dunia mulai dari Asia, Amerika, Eropa, dan Afrika. Berdasarkan informasi dari situs OIE World Organisation for Animal Health penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi, baik melalui urine, feses, dan air liur. Selain itu penyakit ini juga bisa ditularkan melaui genetik.

Penyakit ini memiliki beberapa ciri di antaranya adalah demam, kehilangan nafsu makan, diare, dan lainnya. Sejauh ini tidak ada pengobatan khusus yang bisa dilakukan untuk melawan hog cholera pada babi.

Namun ada beberapa langkah antisipatif yang bisa dilakukan untuk meminimalisir resiko hog cholera pada babi seperti sanitasi yang baik pada hewan ternak.

Menceramati permasalahan tersebut Sihar Sitorus selaku wakil rakyat mengimbau warga Sumut untuk menumbuhkan kesadaran diri untuk menata ulang kadang ternak secara kolektif atau memperhatikan peruntukan pemukiman, usaha, pertanian dan peternakan.

“Sangat siperlukan adanya tata ruang yang memperhatikan lingkungan dilakukan secara konsisten,” ungkap Sihar dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Sihar juga memaparkan kasus hog cholera bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi seperti yang pernah terjadi tahun 2017 di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kala itu, tercatat lebih dari 10.000 ternak babi mati dengan total kerugian mencapai Rp2,5 Miliar.

Sihar juga merespon banyaknya kasus pembuangan bangkai babi ke sungai oleh warga di beberapa lokasi di Sumatera Utara, salah satunya yang terjadi di Sungai Bederah, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang.

“Untuk kasus di Sumut selain menyebabkan kerugian ekonomi, kerugian sosial dan lingkungan juga tak bisa dihindarkan. Selain mencemari aliran sungai, juga bisa menimbulkan bau yang kurang sedap,” ungkap Sihar miris.

Terakhir Sihar menuturkan, perlu adanya komunikasi yang intens dari pemerintah kepada peternak untuk memberikan edukasi terkait penangan hog cholera pada babi. “Mulai dari langkah preventif sampai pada tahap penanganan sehingga bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kasus ini,” pungkasnya.

Editor : Yudis/ril

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here