RS Royal Prima, lokasi penangkapan Walikota Medan Dzulmi Eldin oleh penyidik KPK/foto : int

Onlinesumut-MEDAN : Teka teki dimana penyidik KPK melakukan penangkapan terhadap Walikota Medan Dzulmi Eldin, akhirnya terungkap. Ternyata, pemimpin Medan dua periode itu ditangkap dari hasil pengembangan di RS Royal Prima, Jl. Ayahanda, Medan Petisah.

Tentang lokasi penangkapan itu juga diakui sumber yang sangat layak di rumahsakit tersebut.

“Betul, dia diamankan di Royal Prima persisnya di Lantai 8 Ruang Fisioterapi. Beliau sedang berobat,” ungkap sumber singkat sembari minta identitasnya dirahasiakan, Kamis (17/10/2019).

Sementara, beberapa saat setelah menggelar konferensi pers penetapannya sebagai tersangka malam tadi, pada Kamis dinihari, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung melakukan penahanan terhadap Walikota Medan Dzulmi Eldin, tersangka kasus dugaan suap. Eldin ditahan selama 20 hari ke depan.

Pantauan di Gedung KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Eldin dibawa keluar sekitar pukul 02.35 WIB dini hari. Tak hanya mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK, tangannya juga diborgol.

Tanpa bicara sepatah kata pun, Eldin langsung berjalan menuju mobil tahanan.

Selain Eldin, KPK juga menahan dua tersangka lain, yaitu Kadis PUPR Kota Medan Isa Ansyari dan Kepala Bagian Protokoler Kota Medan Syamsul Fitri Siregar. Ketiga tersangka ditahan di rutan berbeda.

“Ditahan selama 20 hari pertama,” terang Plh Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati Iskak.

Dalam kasus OTT yang menggegerkan masyarakat Medan itu, sebelumnya KPK telah menetapkan tiga tersangka dengan peran berbeda.

Kepala Dinas PU Isa Ansyari (IAN) diketahui sebagai pemberi suap. Sedangkan Walikota Medan Tengku Dzulmi Eldin (TDE) dan Kepala Bagian Protokoler Kota Medan Syamsul Fitri Siregar (SFI) sebagai penerima.

Sementara Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menimpali, Walikota dua periode itu ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga menerima suap Rp330 juta untuk menutupi pengeluaran yang tak bisa dipertanggungjawabkan ketika dirinya melakukan perjalanan dinas ke Jepang. Saat itu, Eldin disebut membawa istri, dua anaknya, dan pihak lain yang tak berkepentingan.

“TDE kemudian bertemu dengan SFI (Syamsul Fitri Siregar) dan memerintahkannya untuk mencari dana dan menutupi ekses dana non-budget perjalanan ke Jepang tersebut dengan nilai sekitar Rp 800 juta,” ungkap Saut.

Menindaklanjuti perintah itu, Fitri menghubungi ajudan Eldin untuk membuat daftar target kepala dinas yang akan dimintai kutipan.

Namun anehnya, dari 7 orang yang diamankan di Medan, hingga kini KPK tak menjelaskan kemana 4 orang lagi.

Pertanyaan yang lebih besar, lalu siapa pihak swasta yang disebutkan KPK dan dimana keberadaan mereka saat ini?

Penulis : Tim

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here