Kapoldasu Irjen Agus Andrianto didampingi Wakapoldasu Brigjen Mardiaz KD, Dirreskrimum Poldasu Kombes H Andi Rian Djajadi dan jajaran PJU Poldasu serta Polrestabes Medan memaparkan kasus kematian aktivis Golfrid Siregar/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Tabir kematian aktivis sekaligus advokat Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Golfrid Siregar akhirnya terungkap.

Kapolda Sumatera Irjen Agus Andrianto SH mengatakan, dugaan sementara penyebab kematian pria yang juga tercatat sebagai aktivis HAM itu akibat kecelakaan tunggal.

“Dari hasil autopsi, dugaan sementara murni akibat kecelakaan tunggal,” ungkap Agus yang turut didampingi Wakapoldasu Brigjen Mardiaz Kusin Dwihananto, Dirreskrimum Kombes H Andi Rian Djajadi, Dirlantas Kombes Kemas Ahmad Yamin dan Kasatlantas Polrestabes Medan AKBP Juliani dalam keterangan pers di Mapolda Sumut, Jumat (11/10/2019).

Agus juga memastikan, semua penyelidikan dan penanganan kasus menimpa Golfrid itu tidak ada yang ditutupi.

“Itu semua fakta dalam penanganan perkara Golfrid, dugaan sementara Golfrid mengalami kecelakaan tunggal, bukan dianiaya,” ucapnya.

Kata Agus, saat kejadian kecelakaan lalu lintas itu, korban tidak memakai helm. Helm itu diletakkannya atau dipegangnya di tangan sebelah kiri, makanya tangan kirinya juga mengalami luka lecet.

“Kemudian, celana dan kaki korban sebelah kanan juga mengalami luka, sama seperti korban berada di rumah sakit,” tandas Agus.

Sementara Kombes H Andi Rian Djajadi menambahkan, indikasi itu semakin kuat karena dari tubuh korban sebelah kanan bagian tangan dan kelopak mata ditemukan goresan dan memar akibat jatuh dari sepeda motor yang dikendarainya.

“Kondisi sepeda motor yang dikendarai bagian kanan ditemukan goresan diduga benturan keras ke trotoar,” sebutnya.

Lebih jauh mantan Kapolres Tebingtinggi itu juga mengatakan, ada 3 tersangka dalam kasus ini terkait pencurian harta benda milik korban.

“Ketiga pelaku diamankan akibat mengambil barang milik korban berupa laptop, berkas-berkas, handphone android, dompet dan isinya beserta cincin korban,” rinci Andi.

Saat diinterogasi, ketiga tersangka mengaku khilaf. “Sebenarnya hanya niat ingin membantu korban dibawa kerumah sakit untuk perobatan, namun karena melihat barang berharga korban jadi tergiur,” ungkapnya.

Alkohol

Dalam konferensi pers itu, Kapoldasu Irjen Agus Andrianto juga memaparkan fakta baru. Enam hari pasca korban dinyatakan meninggal dunia, petugas kepolisian melakukan pemeriksaan melalui laboratorium, persisnya pada Rabu, 9 Oktober 2019.

Fakta pun terungkap. Dalam lambung korban berisi cairan alkohol. Korban sebelum kejadian diketahui sudah dalam keadaan minum alkohol.

“Iya pemeriksaan di laboratorium, hasil pemeriksaan cairan isi lambung dengan metode, kita temukan positif alkohol. Pemeriksaan isi lambung, tidak temukan adanya narkoba maupun yang lain. Kesimpulan, cairan lambung positif alkohol,” sebut Agus.

Kepala Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Medan, Kombes Wahyu menambahkan, setelah kejadian tanggal 3 Oktober 2019, enam hari setelah kejadian, masih terdeteksi adanya cairan alkohol.

“Kemungkinan besar korban mengkonsumsi alkohol cukup banyak. Alkohol mempunyai sifat polatil atau mudah menguap,” kata Wahyu.

Seperti diketahui, meninggalnya Golfrid Siregar disebut ada kejanggalan. Sebab, dia sempat menghilang sejak Rabu 2 Oktober 2019. Dia sebelumnya mengaku pergi ke JNE dan bertemu seseorang di seputaran Marendal, Kec. Medan Amplas.

Sejak itu, dia tidak bisa dikontak oleh keluarga. Kemudian, besoknya, Golfrid ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri di fly over Simpang Pos, Kec. Medan Johor, atau Kamis 3 Oktober 2019 pada pukul 01.00 WIB dinihari.

Golfrid disebut ditemukan oleh penarik becak yang kebetulan melintas di sana. Kemudian korban dibawa ke RS Mitra Sejati, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Adam Malik. Karena mengalami luka serius, Golfrid Siregar akhirnya meninggal dunia.

Penulis/Editor : Yudis

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here