Ketua DPD Organisasi Angkutan Sewa Khusus Indonesia (Oraski) Sumatera Utara, David Siagian bersama pengurus lainnya saat memberikan keterangan pers terkait indikasi persaingan tidak sehat di Grab sebagai bentuk keresahan pada mitra individu driver online/foto : chairul

Onlinesumut-MEDAN : Pengemudi taksi online (daring) individu di Kota Medan menuntut keadilan kepada Grab selaku aplikator angkutan online. Masalah ini mencuat menyusul adanya order prioritas yang diduga menimbulkan persaingan tidak sehat.

Tuntutan kepada pihak Grab itu disampaikan para pengemudi taksi online yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Sewa Khusus Indonesia (Oraski) Sumatera Utara. Mereka meminta kepada Grab agar tidak memberlakukan order prioritas kepada mitranya yang berada di bawah naungan PT Teknologi Pengangkutan Indonesia (TPI).

Terkait dengan hal itu, sebelumnya Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Oraski Sumut David Siagian mengatakan, pihaknya sudah melaporkan hal itu kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) atas dugaan adanya persaingan tidak sehat yang terjadi.

“Tengah dalam proses persidangan, dimana adanya order prioritas yang diberikan oleh Grab kepada mitranya yang tergabung di PT TPI yang mengakibatkan penghasilan dari driver individu atau mitra mandiri menjadi berkurang secara signifikan. Kemudian hal ini menimbulkan dugaan persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan oleh Grab,” jelas David, didampingi Esra Tarigan Wakil Ketua, Daniel Aritonang Sekretaris sekaligus Tim Kuasa Hukum Oraski Sumut kepada awak wartawan di Medan, Senin 7 Oktober 2019 kemarin.

Ia menjelaskan, laporan yang disampaikan kepada KPPU Medan sudah ditindaklanjuti. Bahkan dari hasil pemeriksaan lembaga tersebut, ada persaingan tidak sehat yang terjadi. KPPU pun telah menyidangkan kasus ini pada pada 24 September 2019 lalu di Jakarta.

“Setelah pelaporan dari kami, KPPU melakukan penyelidikan di beberapa kota. Diantaranya di Jakarta, Surabaya, dan Makasar. Jadi PT TPI ini sudah banyak beroperasi di beberapa kota selain di Sumatera Utara khususnya di Medan,” bebernya.

Kasus tersebut pun akan kembali disidangkan hari ini Selasa, 8 Oktober 2019 di Jakarta. Oraski Sumut pun berharap, agar KPPU Independen dan tidak mau diintervensi pihak manapun.

“Kami mendukung proses yang sedang berjalan atas pelaporan yang sudah kami lakukan setahun lalu di Medan. Kami harap KPPU tetap independen dan berdiri sebagai lembaga yang bisa mengayomi masyarakat yang mencari keadilan dan kami berharap KPPU tetap berdiri tanpa mau diintervensi oleh pihak manapun,” harapnya.

“Kami berharap kepada pemerintah agar memperhatikan permasalahan ini, karena ini menyangkut banyak orang antara lain didalamnya mitra-mitra individu transportasi online yang terancam penghasilannya dan berpotensi konflik horizontal antara mitra individu dengan mitra PT TPI,” tandas David.

Daniel Aritonang Sekretaris dan Tim Kuasa Hukum Oraski dari Law Firm Kunci Keadilan menambahkan, pihaknya ingin menyampaikan bahwa ini bukan bicara tentang kuantitas atau jumlah. Tetapi bicara tengang kualitas.

“Ada sebuah sistem yang terbangun. Sistem inilah yang menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat. Dimana sistem ini seperti yang dikatakan tadi oleh saudara David bahwa, Grab memberikan prioritas lebih utama orderan kepada mitra PT TPI daripada ke driver individu yang lain diluar PT TPI,” jelasnya.

Itu disampaikan untuk menyikapi keterangan Tim Penasehat Hukum dari Grab bahwa, tidak ada indikasi persaingan usaha tidak sehat karena jumlah unit lebih banyak yang individu dari pada PT TPI.

Ia menambahkan, dengan adanya order prioritas ini, tentu saja mengurangi pendapatan atau penghasilan daripada driver individu. Dimana sebelum kehadiran PT TPI, mitra individu mendapat penghasilan rata-rata 500 sampai 600 ribu perhari.

“Namun, dengan hadirnya PT TPI pendapatan ini sudah tidak dapat lagi didapat. Bisa dibilang 50 sampai 60% pendapatan driver individu, 40% terbuang. Berangkat dari situasi ini kita melihat bahwa Grab tidak melihat keluh kesah ini,” jelasnya.

Bagi mereka ini sebuah pukulan telak. Karena driver individu adalah mitra yang sudah jauh menempuh konflik di jalanan demi membesarkan aplikasi Grab. “Tapi ketika aplikasi Grab ini sudah besar, sudah punya nama, kok ditinggalkan begini,” pungkasnya.

Penulis/Editor : Chairul

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here