Dirreskrimum Poldasu Kombes H Andi Rian Djajadi memperlihatkan tersangka Roby Meyer terkait kasus penggelapan dan pemalsuan surat tanah di Polonia kepada wartawan/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Setelah diburon selama 4 tahun, tim Ditreskrimum Polda Sumatera Utara, berhasil meringkus tersangka kasus penggelapan dan pemalsuan surat tanah serta keterangan palsu soal tanah seluas 5 hektar di Kec. Medan Polonia,.

Data dari kepolisian menyebutkan, tersangka Roby Meyer, ditangkap dikediamannya, di Jl. Karya I No 12 Komplek Pemda, Kel. Karang Berombak, Kec. Medan Barat, Selasa, 10 September 2019.

“Tersangka masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) sejak Januari 2015. Ditangkap kemarin pagi,” terang Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes H Andi Rian Djajadi, dalam keterangannya kepada wartawan di Mapoldasu, Rabu (11/9/2019).

Kata Andi, keberadaan pria berusia 51 tahun itu terdeteksi pada Senin pagi, 9 September 2019. Pihak kepolisian yang menerima informasi, langsung mengerahkan timnya untuk memburu tersangka dikediamannya. Tanpa perlawanan, tersangka yang sudah diamankan selanjutnya diboyong ke Mapoldasu untuk menjalani pemeriksaan.

Lebih jauh mantan Kapolres Tebingtinggi itu menjelaskan, laporan kasus ini masuk pada 2010 di Polrestabes Medan. Pelapornya bernama Arsyad Lis mewakili PT Anugerah Dirgantara Perkasa (ADP).

PT ADP melaporkan tersangka ke polisi dengan dugaan pemalsuan surat, menggunakan surat palsu dan menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik untuk menjual tanah yang bukan miliknya ke orang lain. Tersangka menggunakan alas hak Uittrexel (bahasa Belanda), yang seolah-olah ia merupakan ahli waris atas tanah milik almarhum Tju Tam Soon.

“Tetapi kami sudah tanyakan kepada ahli dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) maupun ahli lain bahwa itu bukan merupakan alasan terhadap satu objek lahan yang berada di daerah Polonia kurang lebih seluas 5 hektar. Kalau kita hitung, (tanah) itu sekarang nilai asetnya kurang lebih 100 miliar rupiah,” ungkap Andi Rian sambil menunjukkan sejumlah dokumen berupa akte notaris pelepasan ganti rugi, dokumen bukti ukur lahan objek dan gambar objek.

Dengan dokumen-dokumen palsu itu, sambungnya, seolah-olah ada transaksi penyerahan uang. Padahal, kata Andi, penyerahan hak itu justru fiktif. Pada 2011, kasus ini pernah dihentikan. Namun korban tidak mau tinggal diam.

Kasus ini kemudian digugat lewat praperadilan. Hasilnya gugatan mereka dikabulkan pengadilan. Pengadilan memerintahkan penyidik untuk kembali membuka kasus ini dan menindaklanjuti penanganannya. Pada 2014 tersangka Roby Meyer dipanggil penyidik untuk diperiksa namun mangkir, hingga akhirnya pada Januari 2015, tersangka ditetapkan statusnya sebagai buronan.

Andi Rian menerangkan, PT ADP mendapat surat rekomendasi pembebasan tanah seluas 47 hektar di daerah Kel. Polonia, Kec. Medan Polonia dari TNI AU pada 1990. Setahun kemudian, perusahaan ini juga mendapatkan izin prinsip pembebasan lahan dari Gubsu lalu tahun 1995 dan 1997. BPN Medan juga memberikan izin prinsip pembebasan lahan 47 hektar termasuk perpanjangan izin lokasi kepada PT ADP untuk digunakan membangun perumahan rakyat.

“Seluas 42 hektar itu sudah terbit surat-suratnya sesuai alasan penggunaan lahan tersebut. Sisa 5 hektar ini yang sedang dalam proses, disitulah tersangka ini masuk dengan menggunakan alasan uttriexel untuk melanggar sejumlah pasal mulai dari menggunakan surat, membuat surat palsu termasuk menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik,” tandas mantan Wadirreskrimsus tersebut.

Polda Sumut kini tengah menyiapkan administrasi surat penahanan tersangka dan melengkapi berkas penyidikan. Andi Rian juga menegaskan semua orang yang terlibat dalam dokumen akan diperiksa, termasuk tujuh berkas asli yang ditandatangani Lurah Polonia, salinan akte yang ditandatangani notaris atas nama Ratnawati Siregar dan juga surat keterangan yang dikeluarkan oleh Lurah Polonia.

“Ada (tanah) yang sempat dijual, dan dijual kepada Mario Meyer yang merupakan keluarga si Roby juga akan kita ungkap,” sebutnya.

Mengenai lahan yang sudah dijual, Polda Sumut terlebih dahulu akan mendudukan perkaranya karena lahan ini milik ahli waris Alm Tju Tam Soon.

Sementara dalam paparan itu, tersangka Roby membantah tuduhan soal penggelapan lahan tersebut. Ia mengatakan, lahan yang masuk kategori Utriexel itu bukan seluas lima hektar melainkan 98 hektar.

“Itu sudah dibatalkan karena pengukurannya salah. Sebenarnya bukan lima hektar. Tanah semuanya itu sudah saya ukur 98 hektar dan terdiri dari uttriexel,” kilahnya.

Penulis : Riki
Editor : Yudis

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here