Nofita, terdakwa penganiayaan guru madrasah usai menjalani persidangan, Selasa (11/6/2019). Terkait kasusnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan hanya menjatuhkan vonis 6 bulan penjara/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Nofita, terdakwa kasus penganiayaan terhadap seorang Guru Madrasah di Medan tampaknya bisa bernafas lega. Betapa tidak, atas kasus pidana yang dilakukannya, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis ringan, hanya 6 bulan penjara.

Nota putusan tersebut dibacakan Majelis Hakim yang diketuai Sri Wahyuni di Ruang Cakra 9 PN Medan, Selasa (11/6/2019).

Bahkan hukuman tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Medan, Chandra Naibaho yang menuntut terdakwa Nofita dengan hukuman 8 bulan penjara.

Wanita turunan Tionghoa itu dinyatakan bersalah karena melakukan pemukulan terhadap Nursarianto saat menegur terdakwa, hanya karena diingatkan agar anjingnya tidak berkeliaran sembarangan, karena khawatir menggigit anak-anak.

Akibat pemukulan yang dilakukan terdakwa, korban mengalami luka di pelipis mata kiri dan bagian bawah mata kanan. Hal ini diperkuat dengan hasil Visum Et Repertum No:81/VER/MR/RSHM/II/2019 tanggal 08 Februari 2019 dari Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Terdakwa pun dinyatakan melanggar pidana Pasal 351 Ayat (1) KUHPidana.

Diketahui, kasus penganiayaan itu dilakukan terdakwa pada Februari 2019. Saat itu, Ustadz Nursarianto baru pulang mengajar dari madrasah di kawasan Jl. Mandailing, Kel. Bantan Timur, Kec. Medan Tembung.

Korban ketika itu melihat dua anak madrasah berlari tergopoh-gopoh sedang dikejar anjing. Anak itu juga terlihat menangis dan sempat terjatuh karena ketakutan digigit anjing.

Nursarianto yang melihat kejadian itu, lantas berhenti dan menemui sang pemilik anjing yakni terdakwa, Nofita. Kemudian ia mengingatkan Nofita, agar anjingnya jangan dibiarkan berkeliaran sembarangan. Namun, tak disangka, Nofita malah balik memarahinya.

Kemarahan terdakwa malah menjadi-jadi, hingga ia jadi sasaran pemukulan terdakwa dan mengalami luka di wajah. Melihat hal itu, warga yang berkerumun melerai mereka.

Sedangkan, Nursarianto yang mendapat pukulan dari terdakwa, mencoba membela diri dengan menghindar. Ia kemudian melaporkan perbuatan itu ke Polsek Percut Seituan, hingga akhirnya kasus tersebut bergulir ke PN Medan.

Penulis/Editor : Yudhistira

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here