Manager Komunikasi PLN UIW Sumut Rudi Artono (tengah) didampingi Senior Manager Distribusi Taufik Hidayat, Manager UP3 Medan Utara Rizal Azhari dan ManagerSub Bidang Pengendalian Operasi Riki Yakob saat memberikan keterangan terkait pemadaman listrik dalam dua hari terakhir/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Setelah terjadi pemadaman mendadak pada Rabu malam lalu, PLN lagi-lagi tak berdaya ketika byarpet kembali berulang di sejumlah wilayah Sumatera Utara kemarin malam.

Salahsatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) inipun jadi sasaran protes masyarakat pelanggan yang kesal karena terjadinya pemadaman persis di saat Umat Islam tengah menjalankan rangkaian ibadah di Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah.

Untuk menjawab insiden yang disebut dalam situasi Post Majour itu, PLN Unit Induk Wilayah Sumatera Utara, menggelar konferensi pers dikantornya di Jl. KL Yos Sudarso, Medan, Jumat siang (10/5/2019).

Sejumlah pejabat teras PLN tampak hadir diantaranya Senior Manager Distribusi Taufik Hidayat, Manager Komunikasi Rudi, Manager UP3 Lubuk Pakam Kishartanto Purnomo Putro, Manager UP3 Medan Utara Rizal Azhari dan Manager
Sub Bidang Pengendalian Operasi Riki Yakob.

Mengawali penjelasan di hadapan wartawan, Rudi Artono mengakui bahwa pihaknya telah melakukan pemadaman listrik dalam keadaan terpaksa guna menghindari insiden kelistrikan yang dikhawatirkan semakin fatal.

“Ada hal-hal yang diluar kemampuan kita sebagai manusia. Misalnya gangguan alam, gangguan peralatan yang rusak sebelum waktunya artinya ada life timenya atau ada umur operasinya yang diperhitungkan sampai 15 tahun tetapi ternyata 2 tahun sudah rusak dan hal- hal yang seperti ini tentu tidak bisa kita antisipasi. Ini membutuhkan recovery penggantian material,” ungkap Rudi.

Dikatakannya, insiden pemadaman listrik bermula pada Rabu, 8 Mei 2019 sekitar pukul 03.45 wib di saat Umat Islam akan bersantap sahur.

“Pemadaman terjadi akibat gangguan di rangkaian switzher sehingga mengakibatkan terputusnya pasokan dari pembangkit ke sistem. Tidak ada kendala di pembangkitnya, jadi pembangkit kita itu aman tidak masalah. Yang menjadi persoalan itu arus dari pembangkit ini tidak masuk ke sistem akibat switzher tadi bermasalah,” terangnya.

Kemudian, lanjutnya, secara bertahap dilakukan pemulihan hingga pukul 06.38 WIB, hingga listrik di seluruh pelanggan umum kita sudah bisa nyala kembali, sebelum disusul nyalanya listrik untuk industri pada pukul 08.00 WIB.

“Alhamdulillah kita bersyukur atas pertolongan dari Allah SWT, tim kita dengan upaya yang perlu juga kami apresiasi begitu luar biasanya waktu singkat bisa melakukan recovery dan sudah berhasil dilakukan,” katanya.

Namun sayangnya pemadaman kembali harus dilakukan PLN sehari berikutnya pada Kamis 9 Mei 2019 pukul 20.44 WIB. PLN kehilangan daya kembali dan terjadi pemadaman lagi sehingga ada sebagian wilayah tidak bisa teraliri listrik lagi.

“Kita konfirmasi ternyata ada kendala lagi, pembangkit trip di kapal Turki, ini dayanya sampai 480 Mega Watt tentunya sangat berdampak sekali,” ujarnya.

Tetapi setelah pihaknya melakukan koordinasi ternyata troublenya akibat mesin kapal yang sebagai dampak terjadinya penurunan di pipa gas.

“Jadi, kapal yang menggunakan bahan bakarnya gas ini supplainya dari Arun. Pipa ini sepanjang 360 km, dengan diameter 40 cm, sehingga bisa dibayangkan seberapa besar pipa itu, teknisnya jika pipa ini mengalami penurunan gas membutuhkan waktu untuk pemulihan selama 2 jam,” urai Rudi.

Sementara, Senior Manager Distribusi Taufik Hidayat mengatakan, untuk mengantipasi kekecewaan pelanggan, sebenarnya bisa saja menyalakan kembali listrik secara cepat walau dengan tekanan dibawah normal. Namun dikhawatirkan, hasilnya akan lebih parah karena dalam situasi tidak optimal.

“Tetapi ada resiko yang lebih parah lagi yang akan kita tanggung lebih besar yaitu istilah awamnya bisa Gim alias mati total. Bisa nyala sampai 2 bulan,” ungkal Taufik.

Maka itu, sambungnya, dengan sangat berat hati dengan penuh segala tekanan pihaknya terpaksa menunggu proses tekanan gas ini bisa mencapai yang ideal untuk mesin MVP kapal Turki.

“Kami tidak berharap ini pernah terjadi tapi inilah kenyataannya, bahwa ada kejadian yang diluar kemampuan kita sebagai manusia,” sebutnya.

Taufik kembali mengatakan, sebenarnya untuk kesiapan keandalan listrik di Bulan Ramadhan, sesungguhnya PLN sudah sangat siap. Tak hanya menyiapkan 300 posko, sebanyak 2456 petugas yang siap 24 jam bahkan kelebihan atau surplus daya 10 persen juga dipersiapkan untuk menjaga adanya lonjakan penggunaan serta permintaan listrik.

“Tetapi ini semua diluar kuasa PLN. Sebenarnya hal seperti ini pernah terjadi tiba-tiba kita kehilangan daya besar. Tapi masalahnya kali ini di bulan puasa sehingga harus dijelaskan lebih hati-hati,” pungkasnya.

Penulis/Editor : Yudhistira

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here