Oknum PNS BNNP Sumut berinisial USF yang diduga melakukan penipuan CPNS dan barang bukti kuitansi penerimaan uang mahar/foto : ist

Onlinesumut-PAKPAK BHARAT : Bagi sebagian orang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kini akrab disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) sepertinya masih menjadi sebuah pekerjaan prestise yang sangat menjanjikan.

Tak heran, banyak orang berlomba-lomba berupaya masuk menjadi Calon PNS (CPNS), sekalipun harus melakukan cara-cara kotor seperti aksi suap alias menggunakan uang pelicin.

Ambisi inipun kerap pula dimanfaatkan segelintir orang untuk meraup untung, sekalipun kemampuannya untuk memasukkan orang lain menjadi PNS sangat terbatas.

Kasus inipula yang terendus dilakukan perempuan berinisial USF, oknum PNS yang dikabarkan bekerja sebagai pegawai di Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara.

Mengandalkan posisinya sebagai seorang abdi negara, wanita yang diperkirakan berusia 35 tahun itu berhasil memperdaya 7 orang.

Dengan iming-iming mampu memasukkan mereka sebagai ASN di Pemkab Dairi dan Pemkab Pakpak Bharat, ia berhasil meraup uang sebagai ‘mahar’ sebesar Rp140 juta.

“Waktu itu katanya akan ada penerimaan CPNS di Pemkab Dairi dan Pakpak Bharat” kisah salah seorang korban berinsial IAP, Sabtu (19/4/2019).

Saat melakukan pertemuan dengan ketujuh korban. 3 orang korban masing-masing IAP, ADS dan RSS, dijanjikan akan menjadi ASN di Dairi. Sedangkan 4 korban lainnya RS, FSP, MHS dan JB dijanjikan bekerja sebagai ASN di Pakpak Bharat.

“Dari pertemuan itu pelaku meminta uang 20 juta rupiah perorang sebagai mahar” ucap korban lagi.

Saat itu, dibuatlah perjanjian bahwa seluruh uang korban akan dikembalikan jika sebelum pengumuman, mereka tidak lulus.

“Bukti penyerahan uang pake kuitansi bermaterai 6 ribu berisi titipan uang masing-masing 20 juta pada tanggal 17 Oktober 2018. Total seluruhnya 140 juta” bebernya.

Namun, di saat hari yang ditunggu itu tiba, nama ketujuh korban tak keluar dalam pengumuman CPNS yang diterima.

“Kami pun kamplain. Sehari setelah pengumuman tanggal 18 Oktober 2018 kami minta uang kami kembali. Lalu kami telepon kata dia. Katanya besok atau lusa dikembalikan uang kami semuanya. Tapi sampai sekarang uang kami yang dipulangkan baru 60 juta. 80 juta lagi tidak jelas kapan dikembalikannya” ucap IAP sedih.

Sejak itu, mereka pun sadar telah menjadi korban penipuan. Kendati demikian, IAP bersama keenam korban lainnya masih berharap pelaku segera mengembalikan uang mereka yang telah digelapkannya.

“Kami minta uang kami kembali. Tapi kalau dia (pelaku) tak juga memiliki itikad baik, kami pasti akan melaporkannya ke Kepala BNN Sumut di Jalan Pancing dan juga akan mempekarakannya ke pihak berwajib” pungkasnya.

Penulis : Tekap
Editor : Chairul Fadly

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here