Aksi teaterikal sejumlah mahasiswa mewarnai aksi ribuan Umat Islam Kota Medan di kantor perwakilan Konsulat Australia di Jl. Kartini, yang memprotes penembakan jamaah 2 Masjid di Selandia Baru yang mengakibatkan 50 orang meninggal dunia/foto : dis

Onlinesumut-MEDAN : Penembakan membabi buta yang terjadi di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood hingga menyebabkan 50 jamaah tewas dan 50 orang lainnya yang tengah melaksanakan Shalat Jumat pada 15 Maret 2019 lalu, mulai memicu gelombang aksi di tanah air.

Sekitar 2000 umat Islam dari berbagai elemen di Kota Medan yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Bersatu, Selasa siang (19/3/2019), turut menggelar aksi protes atas kekejaman yang mereka tuding sebagai “the real terorist”.

Pantauan Onlinesumut, setelah berkumpul usai Shalat Zuhur di Masjid Agung Jl. Diponegoro Medan, massa lantas bergerak menuju perwakilan Konsulat Australia di Jl. RA Kartini.

Meski jarak titik kumpul dengan lokasi aksi sangat dekat sekitar 300 meter, namun massa aksi terlihat menggelar aksi konvoi dengan melintasi ruas sejumlah ruas jalan, mulai Jl. KH Zainul Arifin, Jl. Imam Bonjol hingga berakhir di depan perwakilan Konsulat Australia merangkap pusat pendidikan Negeri Kangguru yang ada di Medan itu.

Di bawah pengawalan ketat ratusan aparat kepolisian, massa yang turut membawa truk bak terbuka sebagai mimbar, langsung menggelar mimbar bebas di depan perwakilan konsulat itu.

“Penembakan brutal di 2 Masjid, yakni Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Kota Christchurch, Selandia Baru adalah perbuatan biadab yang dilakukan teroris” teriak Ustadz Heriansyah yang menjadi salahsatu orator dalam aksi tersebut.

Sementara Ustadz Indra Suhairi yang turut dalam aksi itu, mengecam pernyataan Senator Australia, Frasser Anning yang menyalahkan bahwa penembakan brutal yang dilakukan warganya Brenton Tarrant (28) akibat perkembangan umat Islam yang begitu pesat di dunia.

“Merekalah yang teroris sebenarnya. Karena mereka telah merusak perdamaian dunia dengan menyerang Masjid sebagai tempat paling sakral bagi kaum Muslim” tegasnya.

Setelah sekitar menggelar mimbar bebas selama satu jam lebih, seorang warga negara Australia Michael Stephen, yang mengaku merupakan pengelola pendidikan Australian Centre itu bersedia menemui pengunjukrasa.

“Saya sebagai warga negara Australia, juga sangat mengecam penembakan yang telah membuat umat Islam terluka. Saya turut bersedih. Walaupun saya bukan perwakilan pihak konsulat, saya akan menyampaikan aspirasi saudara semua ke Kedubes Australia di Jakarta” ucapnya dalam bahasa Inggris.

Unjukrasa ini juga diwarnai aksi teatrikal sekelompom mahasiswa Muslim yang menggambarkan tentang aksi brutal Brenton Tarrant saat menembaki jamaah di kedua Masjid di Selandia Baru.

Sementara, usai menyampaikan pernyataan sikap yang diantaranya berisi mengutuk penembakan brutal itu, massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib kembali ke Masjid Agung untuk melaksanakan Shalat Ashar.

Untuk tetap menjaga kebersihan lokasi aksi, sejumlah demonstran terlihat melakukan pemungutan sampah yang berserakan.

Seperti diketahui, aksi teror yang dilakukan Tarrant terjadi di dua masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret 2019. Yakni Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Tarrant bahkan merekam perbuatan kejinya dan disiarkan langsung melalui akun Facebook-nya.

Insiden terjadi ketika umat Islam setempat sedang bersiap untuk melaksanakan shalat Jumat. Jumlah korban meninggal akibat peristiwa itu mencapai 50 orang.

Korban luka dalam kejadian itu juga mencapai 50 orang. Salahsatu korban tewas adalah warga Indonesia, Lilik Abdul Hamid.

Sedangkan WNI yang mengalami luka serius bernama Zulfirmansyah dan anaknya.

Pasca tragedi itu, kepolisian Selandia Baru menangkap empat orang, terdiri dari tiga lelaki dan seorang perempuan. Sejauh ini, baru Tarrant yang dijerat dengan dakwaan pembunuhan dan disidangkan.

Penulis/Editor : Teuku Yudhistira

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here