Bukti surat perdamaian antara Pua Cang Seek alias Apo dengan Nasril Wadinaini dalam kasus Lakalantas yang diketahui Kepala Desa Karangrejo, Langkat/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Sesuai perundang-undangan dan Peraturan Kapolri (Perkap), tugas seluruh aparat kepolisian adalah melindungi dan mengayomi, serta siap melakukan penindakan hukum terhadap pelaku tindak pidana secara adil.

Tentu tak hanya dalam urusan Reserse, dalam bidang lalulintas, setiap pelanggaran juga harus ditegakkan secara benar tanpa ada maksud dan tujuan tertentu, apalagi terkesan tidak independen.

Tapi faktanya, kisah ini seolah tak berlaku di lingkungan Satuan Lalulintas (Satlantas) Polres Binjai yang terkesan tendensius dan terindikasi ‘bermain’, hingga membuat seseorang yang seharusnya menjadi korban malah harus ditahan, hingga dipaksa meringkuk di balik sel selama berhari-hari.

“Ini terkait dalam kasus kecelakaan anggota saya bernama Pua Cang Seek alias Apo (59), terkait kasus kecelakaan di Jl.Tengku Amir Hamzah, Kota Binjai pada Rabu 13 Maret 2019 sekitar pukul 17.00 WIB” kisah H Sempurna Tarigan, majikan Apo, Jumat (15/3/2019).

Pria yang akrab disapa Pak Pur ini mengatakan, insiden itu terjadi saat mobil minibus Mitsubishi Kuda bernopol BK 1184 GR yang dikemudikan Apo, ditabrak dari belakang.

“Yang nabrak sepeda motor Verza Merah masih pakai nomor polisi show room BK 2150 PBA yang dikendarai Nasril Wadinaini (23) warga Pasar I Stabat Lama. Akibatnya si pemotor luka ringan dan mobil si Apo ringsek” urainya.

Sebagai bentuk tanggungjawab, lanjutnya, Apo lantas membawa si pemotor yang rumahsakit yang menderita luka lecet. “Karena luka lecet aja, lalu diobati, biaya aja cuma 60 ribu rupiah” paparnya.

Sesuai kesepakatan, sambung Pur, pada hari itu juga lantas dibuatlah surat perdamaian di wilayah Kabupaten Langkat antara kedua belah pihak yang turut ditandatangani Kepala Desa Karangrejo, Deka Friel Nata Karokaro.

“Sudah tidak ada masalah. Tapi tak berapa lama tiba-tiba datang anggota Satlantas Polres Binjai bermarga Ginting dan langsung menangkap Apo dan langsung ditahan sampai sekarang sudah 4 hari” ujarnya kecewa.

Padahal, kata Sempurna lagi, perdamaian itu adalah bentuk itikad baik dari anggotanya yang mau bertanggungjawab walau kecelakaan itu bukan kesalahannya.

“Kalau mau kami permasalahkan, si pengendara motor itu tak memiliki surat kendaraan (STNK). Tapi karena itikad baik tadi kami tak persoalkan. Tapi kok sekarang anggota saya yang ditangkap dan ditahan sudah dua hari kayak gini dan mobilnya juga ditahan. Padahal dalam hal ini posisi anggota saya korban” kesalnya.

Yang membuat Sempurna semakin kesal, karena sikap Kanitlaka Polres Binjai Iptu Nasution yang sangat angkuh saat pihak hadir memohon pembebasan Apo.

“Si Apo ini teknisi alat berat, jadi pihak Pomdam minta tolong dia perbaiki alat berat mereka. Atas perintah Danpomdam I/BB lalu diutus anggota Pom ke Polres Binjai. Tapi dengan angkuhnya si Kanitlaka bilang dia hanya patuh pada perintah Kasatlantas AKP Ali Umar” urai Sempurna.

Atas situasi ini, Sempurna Tarigan pun mendesak pihak Polda Sumut khususnya Propam untuk menyelidiki kasus ini, apa sebenarnya motif Satlantas Polres Binjai bersikap demikian.

“Saya sangat tau bagaimana sikap Kapolda Sumut kepada masyarakat. Beliau orang yang merakyat. Saya tidak mau karena ulah anak buahnya di lapangan seperti ini, nama beliau malah jadi jelek. Karena itu Saya berharap Pak Kapolda bisa memperhatikan masalah ini” pungkasnya.

Sementara, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak Polres Binjai.

Penulis : Yudis
Editor : Chairul

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here