Dirreskrimum Poldasu Kombes Andi Rian Djajadi memaparkan kasus penipuan penggelapan bisnis perjalanan umrah/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN : Perburuan terhadap Muhammad Azmi, Direktur PT Green Shaavire Holidays akhirnya berakhir, setelah Direktorat Reserse Kriminal Polda Sumatera Utara berhasil membekuknya.

Bukan tanpa alasan, pria yang sudah berstatus sebagai tersangka itu ditangkap dalam kasus penipuan dan penggelapan terkait bisnis perjalanan umrah dengan total kerugian mencapai Rp2,8 miliar.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Andi Rian Djajadi mengungkapkan, tersangka juga diduga telah melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menggunakan uang setoran calon jemaah.

“Ada lebih seratus jemaah yang dirugikan. Mereka sudah bayar, tetapi pada hari H keberangkatan pesawat yang dijanjikan tidak ada” terang Andi Rian, didampingi Kasubdit 3/Jatanras AKBP Maringan Simanjuntak, Kamis (28/2/2019).

Menurut Andi, kasus ini terungkap berdasarkan dua laporan korban perusahaan travel ke polisi. Pelapor pertama yaitu Abdullah, Direktur PT Al-falah Tour. Pelapor kedua adalah Idrus Marpaung, Direktur PT Thoriq Haramain.

“Pelapor pertama mengalami kerugian sekitar 591 juta rupiah sedangkan pelapor kedua rugi sekitar 343 juta” terang polisi berpangkat melati tiga itu.

Menurut mantan Wadirreskrimsus Poldasu itu, calon jamaah meminta pengurusan keberangkatan umroh melalui dua PT yang sekarang menjadi korban. Untuk PT Al-falah Tour, ada 53 calon jemaah tetapi mereka tidak melapor karena kasus ini ditangani langsung perusahaan tersebut. Begitu juga dengan 50 calon jemaah dari PT Thoriq Haramain.

“Sebenarnya masih ada korban lain hanya belum melapor. Tak perlu saya sebutkan nama perusahaannya. Kerugiannya lebih besar yaitu sekitar 1,8 miliar rupiah” imbuhnya.

Sedangkan modus penipuan yang dilakukan tersangka dengan menyediakan perjalanan tiket penerbangan rute Medan-Colombo-Jeddah. PT Green Shaavire Holidays menawarkan jasa perjalanan seperti rute itu melalui perusahaan-perusahaan yang menjadi langganan. Sayangnya, pada saat mau berangkat, ternyata pesawatnya tidak ada.

“Sehingga PT yang menjaminkan tadi, mereka sendiri yang mengupayakan untuk mencari penerbangan supaya calon jemaah bisa umroh” terangnya.

Sementara tersangka tidak bertanggung jawab atas persoalan ini. Ia berdalih perusahaan mengalami kerugian, sehingga gagal memberangkatkan calon jemaah. Atas perbuatannya, tersangka dikenai tindak pidana penipuan atau penggelapan serta undang-undang pencucian uang.

“Ancaman 5 tahun kalau tindak penipuan. Tetapi kalau untuk tindak pidana pencucian uang bisa lebih berat lagi,” pungkas Andi Rian.

Penulis/Editor : Riki

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here