Manajer McD Binjai AR Rangkuti (baju bergaris) saat memberikan keterangan kepada pihak LKI dan wartawan di restoran cepat saji itu, Jl. Soekarno Hatta, Kec. Binjai Timur/foto : Sabar

Onlinesumut-BINJAI : Makanan cepat saji berbahan baku ayam potong saat ini termasuk bisnis yang sangat menjanjikan. Sayangnya, ada saja pengusaha nakal yang sengaja melakukan tipudaya, untuk mengeruk keuntungan semata, tanpa mempedulikan aturan.

Misalnya saja kualitas ayam yang disajikan benar-benar segar atau soal proses penyembelihan ayam potong itu, apakah sudah memenuhi syarat sesuai syariah Islam atau tidak.

Salahsatu masalah yang kini menjadi sorotan adalah soal ayam potong yang dijual restoran cepat saji asal Amerika, McDonald yang terletak di Kota Binjai.

Ketua Lembaga Konsumen Indonesia (LKI) Kota Binjai Edi Aswari pun mengaku sangat meragukan ayam goreng yang diperjualbelikan restoran tersebut.

“Jelas kami sangat menyesalkan ketidakjujuran pihak McDonald ketika di tanya tentang kehalalan produk ayam yang mereka jual kepada konsumen” ucap Edi kepada wartawan, Selasa (12/2/2019).

Karena menurutnya, untuk mengetahui lebih jauh seperti apa proses pengolahan ayam goreng yang diedarkan ke konsumen, Edi bersama sejumlah wartawan, belum lama ini mendatangi restoran cepat saji yang terletak di Jl. Soekarno-Hatta, Kec. Binjai Timur.

Dalam upaya konfirmasi yang berlangsung Rabu, 2 Februari 2019 sekitar pukul 15.15 WIB itu, mereka bertemu dengan Manajer McD Binjai bernama AR Rangkuti.

Menurut pengakuan AR Rangkuti, apa yang disajikan pihaknya semua berasal dari perusahaan yang memiliki izin halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Kalau tidak ada izin halal, kami tidak mau terima,” ucapnya.

Rangkuti juga menjelaskan bahwa ayam potong yang mereka disajikan merupakan pasokan dari PT Ciomas. “Perusahaan ini sudah punya izin halal. Disamping izin halal, kami juga menerapkan standart yang harus dipatuhi” terangnya.

Disinggung tentanf proses pemotongan ayam, AR Rangkuti dengan santai mengakui, kalau ayam itu dibawa dari peternak. Kemudian dianginkan di pabrik sebelum di potong.

“Diangin-anginkan supaya ayam tidak stres. Setelah beberapa menit dianginkan, ayam lalu digantung menggunakan mesin. Saat posisi tergantung itulah ayam satu persatu dipotong” ujarnya.

Ironisnya, ketika pihak LKI dan wartawan menyatakan bahwa proses tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam, AR Rangkuti seakan tak perduli dengan hal tersebut.

“Yang jelas perusahaannya sudah mendapat izin halal. Karena intinya, barang atau bahan baku yang kami beli berasal dari suplier yang sudah mengantongi izin halal” ungkapnya membela diri.

Penulis : Sabar S
Editor : Chairul Fadly

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here