Ustadz Hamizon Pimpinan Rumah Yatim Tunas Bangsa Labuhanbatu (tengah) didampingi tim Penasehat Hukum dalam kasus ujaran kebencian bernuansa SARA/foto : ist

Onlinesumut-RANTAUPRAPAT : Sidang kasus ujaran kebencian bernuansa sara dengan terdakwa Ustadz Hamizon Mizonri (UHM), Pimpinan Rumah Yatim Tunas Bangsa Labuhanbatu di PN Rantauprapat yang berlangsung Senin 11 Februari 2019 kemarin, diwarnai ‘banjir air mata’.

“Sidang kedua ini beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa.
Sebelumnya sidang perdana dilakukan, Senin 2 Februari 2019 lalu beragenda pembacaan dakwaan,” kata salahseorang Tim Penasehat Hukum UHM dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, Hamsyaruddin, Selasa (12/2/2019).

Menurut Hamsyaruddin, kliennya dituduh melanggar Pasal 28 ayat (2) jo pasal 45A ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008  tentang  ITE. Serta Pasal 14 ayat (2) UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Pada persidangan itu, UHM terlihat tampil berpeci hitam dan baju batik coklat lengan pendek. Terdakwa didampingi oleh DR Dudung Amadung Abdullah, SH, Hamsyaruddin, SH dan Erwin Syahputra, SH Tim Penasehat Hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah.

Ditambahkan Hamsyaruddin, sidang kedua berisi Pemeriksaan Saksi. Saksi yang dihadirkan Jaksa antara lain Alfan dan Teguh Agustino Kurniawan alias Ogud.

“Kedua Saksi merupakan sahabat terdakwa sekaligus jamaah pengajian terdakwa,” bebernya.

Saat memberikan keterangan dihadapan persidangan, keduanya menyampaikan tentang postingan yang dibuat oleh terdakwa di akun facebook miliknya bahwa sebenarnya banyak juga dilakukan oleh pemilik akun lain. Sehingga sebenarnya tidak aneh.

Para saksi juga menyampaikan bahwa baru mengetahui akun facebook bernama majolo on adalah milik terdakwa setelah bertemu di Polda Sumut, saat terdakwa ditahan sudah resmi ditahan. Sebelumnya saksi mengira bahwa akun fb tersebut milik anak-anak santri Rumah Yatim Tunas Bangsa. Karena seringkali memposting kegatan Rumah Yatim Tunas Bangsa.

Di ujung kesaksian, masing-masing saksi diberi kesempatan oleh Ketua Majelis Hakim untuk menyampaikan pendapatnya tentang terdakwa dan harapan masing-masing tentang persidangan terhadap terdakwa.

Dengan berurai air mata, pada kesempatan yang berbeda masing-masing saksi menuturkan, terdakwa adalah ulama yang baik, supel, santun. Serta banyak memberikan bimbingan kepada segenap lapisan masyarakat, tidak pernah membedakan golongan masyarakat, semua ditolong dan disayang.

Para saksi berharap, Majelis Hakim bisa mempertimbangkan untuk membebaskan atau setidaknya meringankan, karena terdakwa sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat terutama santri Rumah Yatim Tunas Bangsa.

Mendengar ungkapan para saksi, seisi ruang sidang tidak tahan untuk menyembunyikan haru. Pengunjung terisak, demikian halnya Majelis Hakim serta Jaksa Penuntut Umum Lusiana, SH. Tangisan Pengunjung kembali meledak saat melepas sang ustadz menuju tahanan. Sambil berpelukan dengan terdakwa, para pengunjung terus terisak.

Sidang  lanjutan akan dilaksanakan Senin 25 Februari 2019 mendatang dengan agenda menghadirkan saksi ahli Jaksa Penuntut Umum.

Tim Penasehat Hukum, kata Hamsyaruddin, akan terus mengawal proses persidangan serta pendampingan maksimal. Karena kasus yang dihadapi oleh UHM ada bernuansa politis menjelang Pemilu 2019

Penulis : Aji S Harahap
Editor : Chairul Fadly

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here