Surya Darma (kanan) dan Khairul Amri (kiri) menunjukkan tanda terima formulir kelengkapan berkas administrasi Clcalon Anggota KPU Deliserdang di Kantor PPK Lubukpakam, Deliserdang, Kamis (7/2/2019)/foto : ist

Onlinesumut-LUBUKPAKAM : Proses eleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) di sejumlah kabupaten di Sumatera Utara dituding amburadul.

Indikasi itu semakin kental, menyusul sikap Panitia Seleksi (Pansel) Calon Anggota KPU Kabupaten Deliserdang, Tapanuli Utara (Taput) dan Dairi, yang iduga sengaja menggugurkan 50 persen lebih calon peserta anggota KPU Deliserdang.

“Timsel ini seolah-olah menganggap orang-orang Deliserdang ini bodoh administrasi. Masa dari 81 calon peserta, 41 orang dihanguskan, separuh lebih yang tak lulus. Apa dasarnya? Kalau memang ada batasan, disebutkan. Nilai administrasi juga tidak transparan,” kecam Surya Darma dan Khairul Amri, dua peserta seleksi yang merasa digugurkan Pansel kepada wartawan di Kantor Panitia Penyelenggara Kecamatan (PPK) Lubukpakam, Kamis (7/2/2019) siang.

Yang lebih janggal, sambung Surya, ketika ia masih menjabat anggota PPK Lubukpakam dan sempat mengikuti seleksi KPU Deliserdang tahun 2014 lalu, dia bisa tembus sampai tahap wawancara.

“Semua tahapannya masih sama, bedanya hanya sekarang metode Computer Assistes Tes atau CAT, kalau dulu masih ujian tertulis. Tahun 2014 lalu, bisa sampai tes wawancara, bahkan masuk 20 besar. Artinya, ada hal yang tidak pas pada seleksi kali ini,” tudingnya.

Sedangma. Khairul Amri yang turut menimpali mengatakan, gugurnya mereka di seleksi administrasi sangat tidak masuk akal.

“Soal administrasi, kan enggak mungkin kami yang tidak paham. Apalagi, saya juga kan kepala sekolah. Masalah administrasi semuanya itu,” ucapnya.

Baik Surya Darma maupun Khairul Amri, nenyebutkan mereka akan lebih ikhlas bila gugur pada tahapan selekai.

“Misalnya di seleksi CAT. Kalau gugur di seleksi CAT, kita ikhlas. Itu murni dari otak kita. Soal ilmu pengetahuan” tandas keduanya.

Dari 40 peserta yang ‘diluluskan’, sambung mereka, tidak serta merta orang-orang yang tak punya ‘cacat’.

“Dari 40 nama yang lulus ada yang bermasalah, tidak bertanggungjawab atas tugasnya, tidak pernah terlibat sebagai penyelenggara,” beber Surya dan Khairul.

Di kesempatan itu pula, Surya dan Khairul mengemukakan kejanggalan lainnya, yakni terkait informasi tentanvg bocornya hasil seleksi.

“Harusnya hari ini (kemarin), tapi informasi atau salinan pengumuman berbentuk PDF sudah tersebar ke publik. Aneh kan?” cetus keduanya.

Maka dari itu, Surya Darma secara khusus mengajak kepada para peserta seleksi yang merasa ‘terdzalimi’ oleh keputusan Pansel untuk bergabung mengajukan gugatan administratif ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

“Kalau ada kawan-kawan yang merasa keberatan mari gabung sama kita. Ini biar jadi pembelajaran,” pungkasnya.

Terkait tudingan-tudingan tersebut, sayangnya Sekretaris Pansel Calon Anggota KPU Kabupaten Deliserdang, Taput dan Dairi, Renta Morina Evita Nababan, yang berulangkali dikonfirmasi wartawan via seluler, jam 17.03 WIB, 17.04 WIB, 17.06 WIB dan jam 17.08 WIB, tak sekalipun mengangkat ponselnya.

Dikonfirmasi via pesan singkat atau short message service (SMS) mempertanyakan hasil seleksi tersebut, jam 17.03 WIB dan 17.06 WIB, yang bersangkutan juga tak membalasnya.

Penulis/Editor : Chairul

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here