Korban Ustadz Nursarianto didampingi sejumlah rekannya memberikan keterangan kepada wartawan usai membuat laporan tindak pidana penganiayaan yang dialaminya di Mapolsek Percut Seituan/foto : ist

Onlinesumut-MEDAN: Suasana kondusif di Kota Medan, Kamis (7/2/2019) malam, mendadak geger menyusul aksi ratusan warga yang mengepung dan nyaris merusak kediaman seorang wanita keturunan Tionghoa di Jl. Mandailing (Pukat 1), Kel. Bantan, Kec. Medan Tembung.

Ternyata, aksi spontan warga ini dipicu aksi pemilik rumah yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Nursarianto alias Anto, seorang Ustads sekaligus Guru Madrasah Tsanawiyah.

Beruntung, Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Harianto dan jajaran yang menerima informasi bergerak cepat turun ke lokasi kejadian untuk menetralisir warga yang sudah tersulut emosi.

Sementara, usai menjalani perobatan, dengan kondisi pelipis masih berbalut perban, korban Nursarianto tampak mendatangi Mapolsek Percut Seituan untuk membuat laporan atas tindak pidana penganiayaan yang dialaminya.

Ditemui di ruang tunggu Mapolsek, sang Ustadz mengaku aksi membabi buta si wanita bersama ibunya yang belum diketahui identitasnya itu, dipicu karena ia memprotes anjing terduga pelaku yang mengejar anak-anak.

“Awalnya saya baru saja rapat dengan guru Madrasah di Madrasah Muhammadiyah Jl. Mandailing, Kec. Bantan Timur Medan karena akan melaksanakan Pekan Olah Raga Seni Diniyah” kisah korban.

Karena kurang persyaratan, lanjut Anto, ia pun beranjak pulang untuk mengambil kekurangan berkas itu.

“Di tengah Jl. Mandailing, Saya lihat murid Madrasah NU dikejar anjing cina itu. Lalu saya turun untuk menegur cina agar jangan melepas anjing sembarangan… Lalu dia jawab, Anda Siapanya. Saya jawab, Saya manusia yang gak tega ada anak Madrasah dikejar anjing sampai ketakutan” urainya.

Dampak dari kejadian itu, korban dan terduga pelaku pun akhirnya terlibat pertengkaran.

“Karena saran pemuda setempat Saya mesti pergi, Saya menghindar ke Jalan Mandala dan kereta (sepeda motor) Saya tertinggal. Maka saya tunggu reda. Tapi perempuan gadis cina itu malah datang bersama mamaknya menyerang Saya. Saya dipukul hingga terjadi pendaharan dan jahitan saat vsum di RS Haji Medan” turtur Nursarianto.

Usai menjalani visum, korban pun akhirnya mendatangi Mapolsek Percut Seituan untuk membuat laporan.

Ternyata, kasus ini tak berhenti disitu. Setelah korban memposting insiden berdarah yang dialaminya di laman pribadi facebook miliknya, para warganet pun langsung merespon dan seketika bereaksi hingga akhirnya mengerumuni kediaman pelaku.

Sayangnya, kediaman pelaku sudah terlihat kosong ditinggal pemiliknya. Untuk menghindari aksi anarkis, hingga kini aparat kepolisian masih melakukan penjagaan.

Penulis/Editor : Wahyu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here