Tim Dinas Pertanian Kab Labuhanbatu bersama PPL dan PHP serta Babinsa terlihat melakukan survei tanaman pertanian padi 16 Koptan Desa Sei Penggantungan Panai Hilir jelang panen raya yang diprediksi dalam waktu tak lama lagi/foto : mora

Onlinesumut-LABUHANBATU : Pemerintah Kab. Labuhanbatu melalui Dinas Pertanian dan tim petugas penyuluhan lapangan (PPL) bersama gabungan 16 Kelompok Tani (Koptan) Desa Sei Penggantungan Kec. Panai Hilir, Kab. Labuhanbatu, memastikan bahwa lahan pertanian padi seluas 5.456 Ha di Desa Sei Penggantungan siap dipanen.

Demikian ditegaskan Kepala Dinas Pertanian Kab Labuhanbatu Agus Salim Ritonga, kepada Onlinesumut, Selasa (8/1/2018).

“Ini sekaligus menjawab berita miring yang mengatakan 16 Koptan di Desa Sei Penggantungan, gagal panen padinya. Itu tidak benar dan boleh dicek ke lahan pertanian padi di Sei Penggantungan”, katanya.

Kendati demikian, lanjut Agus, dari hasil survei di lahan pertanian padi milik 16 Koptan di Desa Penggantungan pada hari yang sama, dari total luas seluruh areal tanaman padi itu, terlihat ada beberapa titik tanaman padi milik Koptan terserang Hama Wereng.

Sementara Kabid Dinas Pertanian Yusril yang didampingi Kabid Sarana dan prasarana pertanian Imron Ritonga beserta tim petugas penyuluhan pertanian wilayah Kec. Panai Hilir Syaifuddin dalam survei itu, tetap optimis lahan pertanian padi milik dari gabungan 16 Koptan yang terkena hama wereng, tidak akan berdampak pada tanaman padi pada kelompok lainnya

“Kami dari tim petugas pertanian Pemkab Labuhanbatu bekerjasama dengan 16 Koptan, berkeyakinan, bahwa lahan seluas 5.456 Ha usaha tanaman padi Koptan, siap melakukan panen padi di Desa Sei Penggantungan”, ucap tim pertanian Pemkab Labuhanbatu.

Sedangkan petugas PPL Desa Sei Penggantungan Kec. Panai Hilir, Syaifuddin bersama petugas pemberantasan hama (PPH) yang juga turut hadir bersama Ketua Koptan Nusa Indah dari 16 Koptan Desa Sei Penggantungan tak membantah masalah ini sempat menjadi polemik, menyusul mencuatnya pemberitaaan di salah satu media online sesuai penjelasan nara sumbernya Naek Limbong dan Parulian Limbong.

Isi berita itu, kata Syaifuddin, dari 20 Ha lahan pertanian padi Koptan di Desa Sei Penggantungan, 6.000 Ha diantaranya terancam gagal panen setelah diserang hama wereng. Dan persoalan itu, kata kedua nara sumber itu, disebabkan kurangnya perhatian dan bantuan Pemkab Labuhanbatu kepada Koptan sebagai warga masyarakat yang tinggal di Desa Sei Penggantungan.

“Keterangan Naek dan Parulian itu kepada salah satu media online tersebut tidak benar. Itu adalah Hoaks”, ucap Syaifuddin yang turut ditimpali Ketua Koptan Desa Sei Penggantungan.

Hal senada juga diungkapkan oleh beberapa Koptan. Bahwa keterangan Naek dan Parulian tentang seluas 20 Ha tanaman padi, rusak dan mati tidak benar.

“Dari 16 Koptan dengan luas 5.456 Ha, hanya 4 Koptan yang terkena hama wereng. Itupun, hanya sedikit, 2 Ha pun saya rasa tidak ada yang diserang. Dan, terkait bantuan obat obatan racun ada lengkap diberikan Dinas Pertanian Labuhanbatu. Pupuk pun ada dibantu dan alat alat mesin pertanian untuk 16 Koptan di Desa Sei Penggantungan, ada setiap tahunnya diberikan bantuan oleh Pemkab Labuhanbatu”, tandasnya dihadapan Kades Sei Penggantungan Sapon Rinaldi dan Babinsa TNI Desa Sei Penggantungan yang turut hadir dalam peninjauan lahan pertanian itu.

Mirisnya, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kab Labuhanbatu Abdul Karim Hasibuan yang juga sebagai anggota DPRD Labuhanbatu, berpandangan miring dengan keterangan tersebut. Tak hanya kesal, Abdul Karim juga turut menuding Pemkab Labuhanbatu memang tidak mempedulikan Koptan Desa Sei Penggantungan.

Penulis : Moratua Tanjung
Editor : Chairul Fadly

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here