Suasana di Mapolsek Percut Seituan tempat DN melaporkan kasus pencabulan yang menimpa putrinya/foto : dly

Onlinesumut-PERCUT : DN (32), orangtua SSNFS, bocah berusia 6 tahun yang menjadi korban pencabulan, berharap pihak Kepolisian Sektor Percut Seituan, segera memproses dan menangkap pelaku.

Kepada wartawan, wanita yang mengaku bekerja sebagai buruh cuci itu mengungkapkan, kasus yang menimpa anaknya itu telah dilaporkannya ke Polsek Percut Seituan, pada Minggu, 12 Agustus 2018 lalu. Namun, sampai saat ini dia mengaku saksi-saksi yang dianjukan belum juga bisa diperiksa oleh penyidik.

Bahkan DN mengatakan, usai membuat laporan pertama, penyidik dinilainya terus diundur-undur melanjutkan pemeriksaan. Namun setelah pihaknya meneruskannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pemeriksaan akhirnya dilanjutkan penyidik pada Rabu, 5 September 2018.

” Di hari Rabu itulah anak saya baru diperiksa sama Juper (juru periksa) nya bernama buk Lisnawati. Dan pada Kamisnya kami disuruh menghadirkan saksi-saksi untuk diperiksa,” ungkap Diana ketika  diwawancarai Onlinesumut.com, Senin (10/9/2018) siang.

Akan tetapi, sambung Diana, pada saat didatangi pada hari Kamis, jupernya berdalih, saksinya belum bisa diperiksa karena mereka sedang mendapat tugas pam unjukrasa. Kemudian kami disuruh datang lagi pada Jumat dan hasilnya juga sama seperti hari Kamis lalu.

“Jumat itu kami disuruh datang lagi pada hari Senin ini. Tapi pertemuannya diundur lagi, jupernya bilang lagi kena pam unjukrasa di USU. Jadi capek kami bang ditunda-tunda seperti ini. Udah selak kabur pelakunya. Informasi yang kami dapat pelaku itu sudah pindah ke rumah anaknya,” ujar DN dengan mimik sedih.

Dia menjelaskan, sang anak yang masih duduk kelas 1 SD dicabuli oleh Ngadimin, (70) warga Pasar VII Makmur Dahlia III, Percut Seituan, Kab Deliserdang yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Bahkan bukan anaknya saja, anak tetangganya berinisial AF juga menjadi korban pencabulan pelaku.

Perbuatan pelaku terungkap karena korban Melati pada Jumat, 10 Agustus 2018, mengadu ke orangtuanya usai kemaluannya dipegang-pegang pelaku (dicabuli) di dalam rumahnya. Sementara SSNFS, dicabuli pelaku satu minggu sebelumnya di cakruk samping rumah pelaku.

“Pas orang tua AF itu tahu dari anaknya. Saya mempertanyakan sama anak saya karena pelaku sering juga mendekatinya. Disitu anak saya baru mau ngomong, bahwa pelaku juga pernah memegangi kemaluannya. Tapi anak saya takut mengadu karena diancam untuk tidak memberitahukan perbuatannya itu kepada saya dan ayahnya oleh pelaku,” kisah DN.

Mendengar pengakuan kedua anak itulah, masing-masing keluarga mendatangi rumah pelaku. Dihadapan warga, pelaku mengakui perbuatannya telah memegangi kemaluan (mencabuli) kedua korban. Awalnya anak pelaku sempat mengajak orang tua korban berdamai namun ditolak.

“Anak pelaku awalnya meminta damai, tapi saya tidak mau, karena anak saya belum dilakukan Visum saat itu. Nah setelah saya membuat laporan dan hasil visumnya sudah keluar, anak pelaku malah mengatakan “ah hasil visumnya kecilnya, gak ada apa-apanya kok” mendengar ucapan itulah saya merasa dilecehkan. Saya berharap polisi segera mengusut kasus ini dan menangkap pelakunya,” harap DN.

Semetara Kapolsek Percut Seituan, Kompol Faidil Zikri ketika dikonfirmasi mengatakan akan segera menindaklanjuti laporan korban.

“Terkait proses pemeriksaan saksinya masih tertunda, memang penyidiknya kebetulan kena tugas pam unjuk rasa. Sabar ya, yang pasti kasusnya akan kita tindak lanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” ungkap Faidil. OS-05/01

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here