Meiliana, terdakwa kasus penistaan agama Islam terduduk lemah saat JPU Kejari Tanjungbalai menuntutnya pidana penjara 1,5 tahun dalam persidangan yang digelar di PN Medan/ist

Onlinesumut-MEDAN : Tim Penuntut Umum (JPU) Kejari Tanjungbalai, menuntut Meliana, terdakwa kasus penistaan terhadap agama Islam hukuman 1,5 tahun Penjara dalam lanjutan persidangan yang berlangsung di ruang Cakra 1 Pengadilan Negeri Medan, Senin (13/8/2018), setelah dinyatakan terbukti bersalah karena ucapannya sehingga menimbulkan kegaduhan di Kota Tanjungbalai pada Juli 2016 lalu.

Dalam tuntutan yang dibacakan Anggia Y Kesuma selaku ketua tim penuntut umum Kejari Tanjungbalai, disebutkan bahwa terdakwa mempersoalkan suara azan dari Masjid Al-Maksum. Sesuai dalam tuntutan yang dibacakan saat itu terdakwa keberatan mendengarkan suara azan dari Masjid yang disampaikan kepada Kak Uwo atau Kasini seorang warga di lingkungan tersebut yang kemudian meneruskannya kepada pengurus Masjid.

Selama proses pembacaan tuntutan, terdakwa tampak menangis sambil beberapa kali menyeka air matanya sampai tuntutan selesai dibacakan. Usai persidangan, majelis hakim yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda pembelaan terdakwa.

Sementara itu usai sidang, JPU Kejari Tanjungbalai Anggia ketika ditanyakan pokok materi yang memberatkan dan nama jaksa yang membacakan tuntutan terkesan menghindar. Bahkan ia menyarankan agar langsung menanyakan ke Kasi Penkum Kejatisu.

“Kalau mau konfirmasi coba tanyakan sama Kasi Penkum Kejatisu, ya,” kilahnya sembari terburu-buru meninggalkan ruang sidang.

Masih berkaitan dengan kasus yang menyeret terdakwa, beberapa pengunjung sidang sempat memprotes seorang jaksa yang belakangan diketahui adalah Kasi Intel Kejari Tanjungbalai, Hardiansyah. Protes itu berkaitan dengan perlakuan istimewa kepada terdakwa yang tidak diborgol dan tidak memakai baju tahanan saat sidang.

Namun Hardiansyah berkilah bahwa tidak ada perlakuan istimewa terhadap terdakwa. “Maaf bu dan bapak, tidak ada perlakuan istimewa, saya pastikan dia diborgol sampai ke ruang tahanan,” ucap Hardiansyah.

Namun ia tidak menjawab saat beberapa pengunjung sidang menanyakan kenapa saat sidang tidak memakai kostum tahanan dan tuntutan yang ringan.

“Pak Jaksa kenapa tuntutan ringan padahal kasus sangat besar dan mengakibatkan kerusuhan di Kota Tanjungbalai,”? tanya seorang ibu.

Mendengar protes itu, wajah Kasi Intel Tanjungbalai sedikit memerah. Namun ia sedikit menghela nafas apa yang dituntut telah sesuai. “Itu telah sesuai ketentuan,” elaknya sembari berlalu.

Begitu juga saat dikonfirmasikan para awak media tentang pertimbangan dan jaksa yang membacakan tuntutan di persidangan. Kasi Intel Tanjungbalai ini pun menyatakan bahwa ini bukan wilayah kerjanya.

“Maaf teman-teman ini bukan wilayah kerja saya,”ketusnya sembari meninggalkan gedung pengadilan dari pintu belakang.

Terpisah, Ranto selaku penasehat hukum Meliana, merasa keberatan dengan tuntutan yang dibacakan jaksa. “Kita keberatan karena tidak ada saksi yang melihat dan hanya berdasarkan surat pernyataan saja,”ucapnya. OS-tari/01

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here