Karhutla/handout

Onlinesumut – TOBASA : Kawasan hutan di Kabupaten Toba Samosir, terbakar sejak dua hari terakhir. Luasnya diperkirakan mencapai 50-an hektar.

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IV Wilayah Balige Leonardo Sitorus yang dikonfirmasi membenarkan kejadian ini dan mengatakan api belum bisa dipadamkan.

“Kebakaran sejak tengah malam, luasnya sudah 50-an hektar, sampai sekarang apinya belum bisa dipadamkan. Kita masih menunggu penyidikan polisi untuk mengetahui penyebabnya,” kata Leonardo, Kamis (26/7).

Upaya yang dilakukan pihaknya dalam mengatasi kebakaran tersebut adalah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder.

Untuk memadamkan api, pemadam kebakaran sudah menurunkan tiga unit armadanya. Dibantu tiga unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Kehutanan dan mobil tangki air milik PT TPL, juga pompa racun api.

“Ada 100 petugas yang turun ke lokasi, kita juga dibantu masyarakat. Kita juga sudah berkoordinasi dengan kementerian untuk menurunkan waterboom, rencananya diberangkatkan hari ini,” ungkapnya.

Namun Leonardo memprediksi pesawat yang khusus pengebom air untuk kebakaran hutan dan lahan tersebut akan sampai ke Sumut besok. Pasalnya, saat ini masih melakukan pemadaman di Riau.

Puncak Karhutla

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencanan (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hasil pemantauan titik hotspot selama 24 jam terakhir dari satelit Aqua, Terra, SNNP pada catalog modis LAPAN dengan kategori sedang (30-79 persen) dan tinggi (>=80 persen) menyebutkan, Sumut berada di kategori sedang dengan satu titik hotspot.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Medan pada Kamis (19/7) melansir bahwa ada 56 titik panas (hotspot) yang muncul. Ke-56 hotspot tersebut dengan tingkat kepercayaannya di atas 50 persen. Dua daerah yang paling banyak titik hotspot-nya adalah Kabupaten Labuhanbatu dan Simalungun.

“Juli adalah puncak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumut, juga provinsi lain. Kami memantau ada 56 titik panas yang menyebar,” ujar Kepala Bidang Informasi dan Data BMKG Wilayah I Medan, Syahnan.

Menurut dia, Kabupaten Labuhanbatu dan Simalungun memang paling rawan dan harus diwaspadai. Berbeda dengan daerah pegunungan yang tingkat curah hujannya tinggi, titik hotspotnya kecil. Meski demikian, harus tetap waspada terhadap sebaran asap. Syahnan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di tempat yang kering.

“Masyarakat diminta tidak membakar hutan atau lahan karena ditakutkan akan menyebabkan kebakaran hutan dan harus mematuhi peringatan dari pihak terkait,” ucapnya.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Pekanbaru melansir data, musim panas diprediksi akan berlangsung hingga September 2018. Terdeteksi peningkatan titik panas di wilayah Sumatera sebanyak 76 titik. Tersebar di Sumatera Selatan sebanyak 12 titik, Riau 17 titik, Aceh 11 titik, Sumatera Utara 9 titik, Sumatera Barat 8 titik, Jambi 9 titik, Lampung 5 titik, Bangka Belitung 4 titik, dan Bengkulu 1 titik. OS-02

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here