Tersangka kasus dugaan penipuan Mujianto alias Anam sesaat setelah ditangkap petugas Imigrasi Bandara Soetta. Mujianto sejak beberapa bulan terakhir masuk dalam DPO Poldasu terkait kasus penipuan Rp3 miliar/ist

Onlinesumut-MEDAN : Setelah tertangkap di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng Provinsi Banten, Senin 23 Juli 2018 kemarin, tersangka Mujianto alias Anam yang sejak beberapa bulan lalu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Sumatera Utara, Selasa (24/7/2018) sore sekitar pukul 15.00 wib, akhirnya tiba di Mapoldasu.

Dengan pengawalan ketat, tersangka kasus penipuan ini sempat dibawa terlebih dahulu ke ruang Dokkes untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, sebelum akhirnya digelandang ke ruang pemeriksaan di Lantai II Gedung Ditreskrimum Poldasu.

Dengan mengenakan baju merah, pengusaha properti itu tampak hanya tersenyum tanpa komentar ketika melintas di depan wartawan yang sudah menunggunya sejak pagi.

Dirreskrimum Poldasu Kombes Andi Rian Djajadi yang dikonfirmasi Onlinesumut membenarkan penangkapan terhadap Mujianto tersebut.

“Sabar ya, besok rilis lengkapnya saya sampaikan” ucap Andi dalam keterangannya via whatsapp.

Seperti diketahui sebelumnya, dengan dibantu pihak Imigrasi Bandara Soetta, Cengkareng, buronan Polda Sumut, Mujianto alias Anam akhirnya ditangkap pada hari Senin, 23 Juli 2018, sekitar pukul 19.00 wib. Selama ini, sang konglomerat masuk DPO akibat terseret kasus penipuan.

Usai diamankan pihak Imigrasi, pemilik modal terbesar grup Cemara Group itu langsung dijemput pihak Ditreskrimum Polda Sumut di bawah pimpinan Kompol M Yusuf Tarigan.

Untuk diketahui, Mujianto als Anam terjerat pidana setelah dilaporkan oleh Armen Lubis (60) pada 28 April 2017 dengan bukti laporan No; STTLP/509/IV/2017 SPKT “II”. Dalam kasus yang sama, Armen juga melaporkan stafnya Rosihan Anwar dalam kasus yang telah membuatnya merugi hingga Rp3 miliar.

Kasus dugaan penipuan itu berawal dari kerjasama antara korban dengan tersangka Rosihan Anwar, staf Mujianto, untuk melakukan bisnis penimbunan lahan seluas 1 hektar atau setara 28.905 meter kubik pada 2014. Lahan itu berada di Kampung Salam, Belawan II, Medan Belawan.

Ironisnya, setelah lahan selesai ditimbun, Mujianto tidak menepati janjinya untuk membayar hasil penimbunan itu sebesar Rp3 miliar. Kasus ini akhirnya bergulir ke ranah hukum. Mujianto dan Rosihan kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada November 2017. Status itu tertuang dalam surat No : B/1397/XI/2017/Ditreskrimum pada November 2017 yang menyatakan status terlapor sudah menjadi tersangka.

Mujianto dan Rosihan akhirnya resmi ditahan pada Rabu (31/1) dengan dipersalahkan melanggar pasal 378 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana.

Selang beberapa hari, penahanan Mujianto ditangguhkan penyidik dengan wajib lapor sambil menunggu berkas dinyatakan lengkap oleh kejaksaan.

Sayangnya, sejak ditangguhkan, Mujianto tidak pernah melakukan wajib lapor. Bahkan ketika dipanggil untuk dimintai keterangannya guna melengkapi petunjuk jaksa, Ketua Yayasan Budha Tzu Chi Sumut itu justru tak pernah muncul dan mencoba melakukan perlawanan

Belakangan diketahui, selain menyurati Presiden, DPR RI, Mabes Polri dan lain-lain yang menuding bahwa Poldasu tidak profesional dan memaksakan dirinya dijadikan tersangka, Mujianto juga diketahui kabur keluar negeri melalui Bandara Blang Bintang, Aceh.

Dengan fakta ini, Poldasu akhirnya menetapkan Mujianto alias Anam menjadi DPO seperti yang tertuang dalam DPO/R/159/IV/2018/Ditreskrimum Poldasu. OS-tari/01

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here