Foto pengunjung yang sempat mengabadikan Bunga Bangkai yang kembali dirusak dengan cara dipindah dari habitatnya/ist

Onlinesumut-TAPTENG : Sebagai tanaman langka, Bunga Bangkai (Amorphopalus Titanium) harus dijaga dan dilindungi keberadaannya. Tapi, bunga yang terus tumbuh di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, justru bernasib sebaliknya.

Tangan-tangan jahil malah melakukan pengerusakan dan pembantaian flora dilindungi itu. Bahkan tanaman itu dipotong dan dipindahkan.

Ironisnya, pengerusakan itu terjadi di lokasi dimana pernah dilakukan sosialisasi oleh KPHSU dan IWO Sibolga Tapteng dengan memasang spanduk berisi imbauan agar tak melakukan pengerusakan, persisnya di jalan lintas Poriaha-Rampa yang diketahui sebagai jalur jalan baru di daerah tersebut.

Perbuatan orang-orang tak bertanggungjawab itu semakin menjadi-jadi. Di tempat berbeda, mereka terpantau seenaknya memindahkan batang bunga bangkai ke tepi jalan kendati masih di jalur jalan yang sama. Sejumlah pengunjung juga sempat mengabadikan foto-foto tanaman malang itu.

Aksi pembantaian ini pun mendapat kecaman pengunjung yang sempat melintas dan berhenti melihat bunga itu. Diantaranya Analisma Marpaung, warga Pandan, Kabupaten Tapteng. Ia mengaku miris melihat pengerusakan bunga itu.

“Memang mau lihat bunga itu kami kemarin, jadi pas melintas kami lihat bunga itu, tapi belum mekar, ada anak kecil disitu minta sumbangan, kubilang gak kukasih, ini udah kalian pindah ini,” kata Analisma di Pandan, Rabu (20/6/2018).

Ibu dua anak pengusaha salah satu warung kopi di seputaran Pandan ini mengaku meminta agar pengerusakan itu segera dihentikan.

“Aku memang sengaja bawa anak-anak, biar ada pengetahuan mereka juga kan, tapi sudah dirusak gitu ya kita kecewa, kalau bisa jangan ditebang lagi lah,” harapnya.

Analisma mengaku, andai saja bunga itu tidak dirusak, ia dan beberapa rekannya yang datang berkunjung hendak menyaksikan bunga itu tidak akan segan-segan membayar biaya parkir secara pantas.

“Lima ribu pun diminta asal bisa lihat bunga yang mekar dan masih tumbuh alami kami mau, tapi ya kalau yang udah dirusak gitu, kita pun malas,” ucapnya ketus.

Terpisah, Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kesatuan Perlindungan Hutan (KPH) wilayah 11, Perri mengungkapkan terkait bunga Bangkai sepenuhnya kewenangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

“Saya juga sudah menginformasikan ke Balasi Besar, saya juga dulu sudah berikan ide, kalau benar ada disitu, kalian yang punya hak meriset nya, jadikanlah konservasi sosialisasi ke masyarakat,” kata Perri.

Dia menjelaskan, bahwa pihaknya sebagai KPH dalam persoalan ini hanyalah penyedia tapak atau lahan.

“Kewenangan apanya sekarang? Kalau konservasi ya mereka, BKSDA, sama seperti Pongo Tapanuliensis, yang bergerak kan BKSDA, nah kami yang proteksi tapaknya, jadi gak tumpang tindih, kehidupan liarnya mereka kita tapaknya, tempat tinggalnya,” katanya.

Terpisah, petugas BBKSDA Hutagalung yang coba dikonfirmasi pada hari yang sama via ponselnya justru tak aktif. Sementara Kepala BBKSDA Hotmauli Sianturi juga saat dihubungi belum mengangkat telepon. Pesan singkat sms yang dikirim ke ponselnya juga belum dibalas. OS-tari

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here