Kue Putu Bendera dari Barus yang legendaris/OS-02

Onlinesumut – BARUS : Ada hanya saat Lebaran dan hari pergantian tahun, Putu Bendera menjadi penganan legendaris asal Kota Islam pertama di Indonesia yang coba bertahan melawan gerusan jaman.

Lidah-lidah para sepuh, perantau, dan mereka yang mencintai kuliner bersejarah nusantara akan berebut mencarinya ketika dua hari besar itu tiba. Bahkan tak sedikit yang memesan jalur khusus.

Sebagain kita akan menduga kue putu bertekstur lembut dan berwarna putih dengan gula merah di tengah rongganya.

Salah besar, putu khas Barus, kota tua yang terletak di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara ini berwarna merah putih mirip bendera Indonesia. Teksturnya sedikit keras tapi renyah saat dikunyah, dan manis.

“Ini kue sejak masa nenek moyang Orang Barus. Ibu saya bilang, sudah dari moyangnya dulu Putu Bendera ada. Jadi sudah tujuh turunanlah, mungkin…” kata Asmiati Tanjung (48), warga Jalan Kartini, Kampung Solok, Desa Solok, Kecamatan Barus yang ditemui di rumahnya pekan lalu.

Bila hari perayaan jatuh, pasar-pasar tradisional sekitar Barus yang disebut Onan menjadi cantik. Jejeran Putu Bendera beradu warna dengan kue-kue lain. Tapi karena jumlahnya tak banyak sebab pembuatnya pun kian habis, kue laku keras. Jelang sore, tak lagi terlihat si merah putih itu.

Tak ada yang bisa memberikan keterangan jelas soal pemilihan warna dan mengapa hanya muncul saat perayaan agama Islam dan pergantian tahun saja. Bahkan Asmiati menggeleng. Dia hanya berasumsi supaya sama dengan warna Bendera Indonesia.

“Mungkin karena bendera kita merah putih makanya dipilih warna itu, kami pernah buat warna lain, tak laku. Tiap tahun kami bikin 100 kilo, ludes. Tengah bulan sebelum puasa kami buat, jual pas mau Lebaran,” ucap dia.

“Dulu banyak yang membuat kue ini, sekarang tinggal keluarga kami saja. Tiap mau Lebaran dan tahun baru, ramai yang pesan. Bukan cuma orang sini, luar kota pun banyak. Kalau Orang Barus dia, pasti taulah dia kue ini,” kata sembilan bersaudara keturunan Fauziah Siambaton ini.

Belum ditanya, ibu lima anak itu membeberkan resep kuenya yang menurut dia mudah didapat. Bahan dasarnya adalah beras Pulut (ketan), gula, pewarna makanan dan Vanilli. Usai dicampur, adonan direbus. Begitu matang, dibentuk persegi empat lalu dijemur di bawah matahari sampai kering. Penjemuran memakan waktu beberapa hari hari tergantung kondisi cuaca.

Perempuan tulang punggung keluarga ini melanjutkan, gula yang dibubuhkan tidak mendominasi sehingga rasa manisnya pas dan aman bagi penderita diabetes. Satu lagi, tak ada pengawet dalam penganan ini.

“Dijual Rp 70.000 per kilogram, bisa tahan sampai tiga bulan kuenya. Untungnya lumayan, tapi capeknya pun lumayan, mungkin ini yang buat orang malas mengerjakannya. Anak-anak ku mau bantu, tapi mereka juga kerja…” tutur Asmiati.

Barus

Kota Barus berada di tepian Pantai Barat, Pulau Sumatera. Menghadap langsung ke laut lepas Samudra Hindia. Diperkirakan pada abad ke-7 Masehi, agama Islam sudah ada di sini. Buktinya, terdapat makam tua di kompleks Pemakaman Mahligai tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriyah.

Dari Kota Medan, jarak Barus sekitar 290 kilometer. Jika ditempuh melalui jalur darat dengan angkutan pribadi, waktu tempuhnya sekitar delapan sampai 10 jam. Dengan angkutan umum, waktunya menjadi lebih lama. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang hijau dan mempesona. Jika via udara, kita akan mendarat di Bandara FL Tobing atau Pinangsori yang cukup lumayan fasilitasnya.

Kota ini menjadi kota wisata sejarah dan religi yang memiliki kekayaan dan informasi menarik mulai benda-benda kuno, mata uang, prasasti dan fragmen arca, makam para aulia dan ulama seperti Makam Papan Tinggi, Makam Mahligai, Makam Syekh Mahdun, Makam Syekh Ibrahim Syah, Makam Tuan Ambar, Makam Tuan Syekh Badan Batu.

Nama Barus muncul pertama kali dalam sejarah perabadan Melayu lewat Hamzah Fansyuri, penyair sufi termansyur. Barus juga dikenal dengan nama Pancur, kemudian berubah dalam bahasa Arab menjadi Fansur.

Arkeolog Perancis Claude Guillot menyebut Barus termasuk kota kuno paling dikenal se-Asia sejak abad ke-6 Masehi. Pada Desember 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan tugu di Barus sebagai tanda titik nol peradaban Islam Nusantara. OS-02

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here