Suasana pembagian raport di SMAN 5 Medan, Jl Pelajar yang terusik dengan mencuatnya kabar soal adanya pungli sebesar Rp200 ribu/siswa yang dilakukan pihak komite/pijar

Onlinesumut-MEDAN : Langkah tegas pemerintah dalam memberantas segala bentuk pungutan liar (pungli) khususnya di seluruh instansi ‘plat merah’, rupanya belum juga menjadi efek jera bagi sejumlah oknum.

Institusi pendidikan seperti sekolah yang diharapkan mampu menjadi pelopor untuk melawan pungli, justru malah dijadikan peluang untuk mencari untung lewat berbagai modus. Alhasil, anak didik dan orangtuanya menjadi resah.

Kasus ini pula yang menjadi pergunjingan dan keluhan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 lewat komite sekolah yang diduga membuat kebijakan sendiri dengan melakukan pengutipan uang sebesar Rp200 ribu kepada setiap siswa.

Br Silaban, salahsatu orangtua siswa sekolah yang berlokasi di Jl Pelajar, Kelurahan Teladan, Medan Kota itu mengatakan, tidak hanya terbebani, ia juga keberatatan atas adanya pengutipan yang terendus berkedok sumbangan uang komite saat mengambil Laporan Penilaian Hasil Belajar (raport-red) anaknya yang naik ke kelas XI.

“Heran kita, selalu ada saja pengutipan di sekolah ini, padahal sewaktu di awal masuk pihak sekolah juga meminta uang sumbangan. Ini juga minta uang komite lagi,” keluhnya kepada wartawan saat ditemui di halaman sekolah usai mengambil raport anaknya, Sabtu (9/6/2018).

Namun ia mengaku tidak berani mempertanyakan secara langsung untuk apa fungsi  pengutipan uang komite tersebut.

“Kalau kita pertanyakan nanti ke pihak sekolah malah anak kita yang tertekan di sekolah Pak, biar sajalah gitu,” ungkapnya sembari menambahkan dirinya hanya membayar uang komite Rp200 ribu untuk bulan Juli dan Juni.

Senada, orangtua siswa lainnya bernama M. Tampubolon juga mengungkapkan keberatan atas pengutipan sumbangan uang komite. Ia mengatakan bahwa itu bukan sumbangan tetapi pemerasan berkedok sumbangan.

“Kalaulah pihak sekolah mengatakan itu sumbang seharusnya mereka menjelaskan dalam surat pemberitahuan itu untuk apa sumbangannya. Kedua, kalau dikatakan sumbangan mengapa harus menyebutkan nominal 100 ribu, harusnya sumbangan itu ya sukarela,” tukas Tampubolon.

Tak hanya orangtua siswa, beberapa murid yang diwawancarai kru media ini juga turut mengeluhkan pengutipan itu.

“Ia benar ada dikutip, ini surat pemberitahuannya bang. Kata Pak Presiden sekolah gratis dari tingkat dasar sampai menengah atas. Namun pengutipan tetap berlangsung. Ini yang bohong Presiden atau kepala sekolahnya bang,” tanya seorang siswa kelas XI di SMAN 5 sembari meminta namanya dirahasiakan kepada wartawan.

Sedangkan Ibrahim, siswa kelas X mengatakan kalau orangtuanya memberi sumbangan Rp500 ribu untuk uang komite.

“Variasi juga yang memberi, orangtua saya memberi 500 ribu dan ada juga  yang lain memberi 1 juta,” sebutnya.

Parahnya, kata Ibrahim, kalau ada murid tidak sanggup bayar harus minta surat keterangan dari dinas sosial, tambahnya lagi.

Sementara, Kepala Sekolah SMAN 5 Medan Drs.Harris H Simamora ketika berusaha dikonfirmasi beberapa wartawan belum berhasil. Satpam sekolah tersebut mengatakan kepala sekolah sedang tidak berada ditempat. Os-jar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here