Ramlan Ginting, salah seorang penduduk Desa Sigarang garang yang terpaksa menetap di kampung halamannya meski sudah ditetapkan dalam zona merah (red zone)

Onlinesumut-KARO : Di balik bencana Gunung Api Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang tak kunjung berakhir, terselip kisah miris para korban yang kini terpaksa menantang maut agar bisa tetap bertahan hidup.

Cerita inilah yang tercermin di kawasan Desa Sigarang garang, Kecamatan Namanteran. Kendati sejak awal sudah ditetapkan sebagai area zona merah (red zone) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), namun kawasan yang semestinya harus dikosongkan ini masih tetap berpenghuni.

Tercatat, ada sekitar 80 Kepala Keluarga atau sekitar 450 jiwa, masih bermukim di desa yang berjarak antara 2,8 hingga 3 kilometer dari kawah Sinabung.

Bukan tanpa alasan bagi warga desa untuk memilih bertahan di perkampungan itu. Karena nyatanya, semua janji pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka, belumlah terealisasi sepenuhnya.

Seperti yang diutarakan Ramlan Ginting, penduduk asli Desa Sigarang garang yang kini tetap memilih mendiami kampung halamannya.

Demi melanjutkan hidup bersama sang istri Nur Anna Bre Sitepu (65), pria berusia 68 tahun ini, memilih tetap bertahan di desa yang masuk dalam zona merah itu.

“Ya mau tak maulah harus tetap disini. Bantuan dari pemerintah tak memadai. Pernah cuma diberi bantuan untuk sewa rumah dan sewa lahan cuma Rp6,4 juta. Uang segitu bisa buat apa” kisahnya kepada Onlinesumut, Rabu (16/5/2018).

Dikatakan Ramlan, saat pertama Sinabung meletus tahun 2010 dan berlanjut di tahun 2013, ia bersama penduduk desa tempatnya bermukim, sudah sempat mengungsi.

“Ada beberapa kali kami mengungsi pas erupsi lagi tinggi. Kayaknya pernah 3 kali dievakuasi dan sempat tinggal di 9 titip penampungan. Habis itulah dapat bantuan yang tak memadai itu. Itupun cuma sekali aja” ungkapnya.

Karena tak ada lagi subsidi dari pemerintah, bapak 6 anak ini bersama warga setempat lainnya, akhirnya memilih pulang kampung. “Ya terpaksa pulang. Lagian dilarang juga enggak, disuruh juga enggak. Sekarang baliklah jadi petani lagi nanam kopi dan labu kuning buat biaya hidup. Apalagi sekarang saya hanya tinggal berdua dengan istri. Anak-anak sudah bekeluarga, tinggal yang bungsu belum. Tapi sekarang juga sudah merantau ke Kalimantan cari kerja disana sejak erupsi terjadi” ucapnya.

Kendati demikian, Ramlan mengaku tetap memiliki rasa kekhawatiran untuk terus bertahan tinggal di desa terlarang itu.

“Siapa yang gak takut. Pastilah. Apalagi kayak baru-baru ini ada erupsi, terus awan panasnya mulai buka jalur ke arah sini, kami sempat ngungsi. Tapi beberapa jam aja, karena begitu reda yang balik kampung lagi” ujar pria yang mengaku sudah masuk dalam daftar relokasi di kawasan Siosar.

Kini, Ramlan bersama ratusan orang lainnya di Desa Sigarang garang berharap pemerintah pusat untuk segera merelokasi mereka ke hunian baru yang aman.

“Semoga Presiden Jokowi mewujudkan janjinya yang dulu bilang bahwa hingga akhir 2018 tidak ada lagi pengungsi. Walau saya gak yakin terealisasi. Karena sampai sekarang kepala desa yang mendata kami masuk dalam gelombang tiga untuk direlokasi, sampai sekarang juga ngaku belum dapat kabar. Padahal itu yang kami harap jadi jalan paling terbaik” harapnya. OS-01

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here