Onlinesumut-MEDAN : Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumatera Utara menggelar seleksi wawancara terhadap Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) 2019 di Kota Medan. Seleksi sudah digelar selama dua hari dan diikuti sekitar 90 Bacaleg dari berbagai dapil di Sumatera Utara.

Dalam seleksi itu, para Bacaleg memaparkan gagasan dan ide kreatif mereka di hadapan Panitia Seleksi (Pansel).

Faisal Andi Mahrawa, salahsatu Pansel dari kalangan akademisi mengatakan, mereka cukup terkejut dengan pemaparan para Bacaleg. Kendati diantaranya masih berusia muda, namun cukup memiliki ide kreatif.

“Ada bacaleg yang punya gagasan membuat aplikasi mobile terkait dengan bagaimana menangkap aspirasi dari masyarakat,” kata Faisal, Minggu (15/4).

Lebih jauh, Faisal mengatakan para Bacaleg yang ikut seleksi melebihi harapan mereka. Mereka memaparkan dengan detil permasalahan politik dan melawan intoleransi.

“Sebelumnya kami berharap mereka punya potensi di dunia politik dan dunia kerja mereka sehari-hari. Ternyata justru hari ini lebih dari itu. Mereka punya pandangan yang sangat detail, punya sikap terkait dengan anti korupsi dan intoleransi. Mereka punya solusi cerdas dan kreatif,” terangnya.

Sementara itu, salahsatu Bacaleg Sidhi Nugroho Widhianto (45)mengatakan, keinginannya maju sebagai Caleg PSI karena melihat partai baru itu memiliki komitmen memberantas korupsi dan intoleransi. Ditambah lagi, tidak ada istilah mahar politik dalam PSI.

“Prosesnya juga transparan. Kita bisa melihat langsung di website PSI. Proses seleksi juga disiarkan secara langsung di facebook PSI,” ujarnya.

Pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu mengaku ikut penjaringan caleg karena punya pengalaman buruk terkait korupsi. Istrinya pernah mengkritisi soal kasus pungutan liar akreditasi puskesmas.

“Sebetulnya ada dana dari pusat, tapi di bawah ada kutipan biaya untuk akreditasi puskesmas. Jadi saya ingin bersihkan korupsi di pemerintahan dan instansi lainnya sampai ke akar-akarnya,” katanya.

Angka korupsi yang tinggi di Sumut, menurutnya terjadi karena hukuman yang terlalu ringan.

Saat diwawancarai oleh Pansel, dirinya mengaku gugup. Karena para Pansel punya pemahaman yang sangat luas.

Sementara itu, Ketua DPW PSI Sumut Fuad Perdana Ginting menjelaskan, pihaknya tidak membedakan seleksi terhadap kader PSI yang juga ikut seleksi. Dari seluruh bacaleg usia termuda yang ikut seleksi adalah 22 tahun.

“Tidak mengurangi standar penilaian. Yang gak layak lolos tidak akan lolos,” katanya.

Yang paling penting, para Bacaleg bisa mengetahui tugas pokok legislatif dan punya ide kreatif. Para caleg nantinya yang terpilih juga harus mampu mengajak masyarakat mewujudkan idenya.

“Jadi kita tidak main main untuk mencari caleg. Karena mereka adalah calon wakil rakyat” pungkasnya.

Setelah wawancara, para bacaleg akan mengikuti rangkaian seleksi sosialisasi. Para Bacaleg ditugaskan membuat acara di dapil masing-masing dan akan disupervisi oleh PSI. Fuad juga dikabarkan ikut dalam seleksi Bacaleg. OS-01

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here