Onlinesumut-GUNUNGSITOLI : Amuk massa yang berujung pada pengerusakan peternakan ayam petelur pada Senin petang, 9 April 2018 lalu, mulai berbuntung panjang.

PT DAS selaku pemilik usaha tersebut, nyatanya tak hanya menyesalkan aksi spontan anarkisme warga yang jelas-jelas telah melanggar hukum. Namun kini perusahaan tersebut membawa kasus ini ke jalur hukum. Apalagi akibat emosi warga yang tak terkendali itu, telah menyebabkan kerusakan berat pada fasilitas di areal peternakan seperti memecahkan kaca mobil dan kaca kantor serta merusak pipa air setelah dilempari dengan batu dan kayu.

Sebagai tindaklanjut atas laporan pihak perusahaan, Kamis (12/4/2018), petugas Kepolisian Resort Nias datang ke lokasi melakukan identifikasi sejumlah fasilitas yang rusak termasuk bangkai yang mati setelah dilempari.

Melalui kuasa hukumnya Yulius Laoli, PT DAS menyatakan bahwa aksi anarkisme tersebut tidak bisa ditolerir karena pihaknya mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

“Langkah hukum yang kita lakukan adalah melaporkan ke Polres Nias dan ini jelas sudah ada pengrusakan. Jadi, nanti kita melihat aksi tersebut apakah ada izin atau tidak. Jika tidak maka adanya upaya-upaya tertentu yang akhirnya tidak ada yang mempertanggungjawabkan” ujar Yulius.

““Banyak sekali kerugian yang dialami PT DAS dan untuk sementara sekitar 500 Juta nanti akan dirinci selanjutnya” imbuhnya.

Sementara Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui spanduk yang ditempelkan di depan pagar PT DAS mengultimatum selama 30 hari kedepan sejak 10 April hingga 10 Mei 2018 untuk mengosongkan lahan peternakan tersebut. Namun, kuasa hukum PT DAS bersikeras tidak akan mengosongkan tempat itu sebelum adanya putusan hukum yang inkrah dari pengadilan negeri tanpa mengakomodir keluhan warga.

“Sebelum adanya putusan pengadilan yang menuntut harus ada eksekusi, kita tidak bisa melakukan apa-apa saja keinginan masyarakat tanpa terlebih dahulu adanya desakan hukum yang mengikat atau putusan hukum yang inkrah” tegasnya.

Sebelumnya, ratusan warga dari tiga desa yakni Desa Olora, Hilibowo Olora Dan Onozitoli Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara mengamuk sebagai puncak keresahan mereka terhadap limbah ternak yang membuat polusi udara dan lalat menyerang pemukiman warga. Terlebih, jarak antara pemukiman penduduk dengan lokasi peternakan sangat dekat, hanya sekitar sepuluh meter. OS-ed

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here