Onlinesumut-Tapteng : Perbuatan Antonius Batee (53), petani nilam yang tinggal di Dusun Aek Lobu, Desa Danau Pandan, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, akhirnya terbongkar. Pembunuhan yang dilakukan pelaku kepada Safrida Batee (22), terbongkar akibat pertanyaan-pertanyaan kakek korban yang juga ayah kandung pelaku Yafeti Batee (74).

Yafeti lalu menghubungi anak pelaku yang lain, Rintah Batee (14) yang sedang berada di Nias pada Rabu (13/9). Dari mulut Rintah diketahuilah bahwa kakaknya sudah meninggal dunia dibunuh ayahnya pada 17 April 2017 lalu. Rintah juga bilang, kalau dirinya memilih pergi ke Nias karena takut dibunuh pelaku. Yafeti begitu terkejut mendengar penjelasan Rintah, dia lalu menyuruh cucunya itu untuk pulang ke kampung.

Kamis, (28/9), Rintah sampai di Kota Sibolga. Setelah bertemu kakeknya, keduanya lalu membuat pengaduan ke Polsek Pinangsori. Kepada polisi, Yafeti bilang sudah sering bertanya kepada pelaku kemana korban. Pelaku selalu menjawab kalau korban bersama Rintah merantau ke Nias. Sementara Rintah, kepada polisi mengatakan, kakaknya dikubur tak jauh dari rumah mereka.

Mendengar keterangan kedua pelapor, Kasat Reskrim dan Kanit Reskrim Polsek Pinangsori beserta tim gabungan berkoordinasi dengan kepala desa dan kepala dusun untuk mengetahui keberadaan pelaku. Informasi yang didapat, pelaku berada di rumahnya bersama dua anaknya yang lain, Rian Batee (13) dan Selestina Batee (6).

Kepala dusun memberitahukan kalau jalan menuju rumah pelaku memerlukan empat jam perjalanan, harus naik dan menuruni bukit dengan jurang di kanan-kiri yang dalam karena rumah pelaku persis berada di puncak gunung Danau Pandan. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, pelaku ditangkap tanpa perlawanan. Dia lalu menunjukkan lokasi kuburan anaknya yang hanya berjarak 40 meter dari rumahnya. Polisi kemudian membuat police line di lokasi ini.

Berhubung hari sudah malam dan takut kalau korban akan melakukan perlawanan dan melarikan diri saat dibawa ke Polsek Pinangsori, polisi lalu memilih jalur lain dengan dua jam menuruni. Setelah tiba di anak sungai yang airnya mengalir ke Danau Pandan. Selanjutnya menggunakan perahu bermesin sedang (kutuk-kutuk, red), mereka menyusuri sungai. Sekira pukul 23.40 WIB, tibalah mereka di polsek.

Kapolsek Pinangsori AKP Lumumba Siregar melalui humasnya, AKP Hasanuddin Hasibuan mengatakan, pelaku membunuh korban dengan cara menggorok lehernya menggunakan pisau. Alasan pelaku karena korban menolak diajak ke kebun untuk memetik daun nilam.

“Waktu kejadian, korban baru saja pulang jalan-jalan. Pelaku langsung mengajak korban ke kebun mengambil daun nilam, dijawab korban,” malas aku, jangan paksa aku, Pak.” Mendengar jabawan korban, pelaku mengancam kalau tidak mau akan menggorok lehernya. Dijawab korban, “bunuhlah Pak, kalau berani.” Tak lama, pelaku masuk ke kamar korban sambil membawa pisau pemotong nilam, lalu menggorok leher korban,” kata Hasanuddin, Jumat (29/9).

Besoknya, lanjut dia, pelaku menyuruh Rintah mengangkat mayat korban namun ditolahnya karena terlalu berat. Akhirnya pelaku yang membopong mayat korban kemudian menguburnya. Tiga minggu usai meninggalnya korban, Rintah pergi ke Nias karena takut dibunuh pelaku.

“Barang bukti masih kita lidik. Pelaku juga diduga telah membunuh istrinya dengan cara dibakar, dan membunuh anaknya yang masih bayi.

Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pasal yang akan kita dikenakan 338 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup,” pungkas Hasanuddin. OS-03

 

ID:2633 Responsif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here