Onlinesumut-DELISERDANG : Penangkapan disertai penahanan yang dilakukan penyidik Polres Deliserdang terhadap seorang kader Golkar di Kecamatan Batang Kuis Bernama Purwanto alias Capung (40) hampir 2 pekan, terus menuai kontroversi.

Sejumlah saksi mata dan rekan-rekan tersangka yang mengaku tahu persis keberadaan Capung saat peristiwa penganiayaan yang menimpa Sanimin, memastikan bahwa Purwanto jelas tidak terlibat dan tidak berada di lokasi kejadian yang berada persis di lahan garapan di Jalan Arteri Kuala Namu, Batang Kuis.

Ironisnya, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting yang dikonfirmasi Onlinesumut.com melalui pesan whatsapp kemarin, justru mengakui langkah hukum yang dilakukan pihaknya sudah prosedural.

“Penyidik Polres Deliserdang sudah melakukan proses penyidikan sesuai prosedur, tidak ada kriminalisasi” ungkapnya singkat, Kamis (17/8/2017).

Tak terima dengan respon itu, Jumat (18/8/2017), sejumlah kader yang bernaung di bawah Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar Batang Kuis pun sengaja berkumpul. Secara bersama-sama, mereka membuat surat pernyataan dari seluruh Anggota Partai Golkar untuk mendukung pembebasan Capung demi menegakkan keadilan .

“Dengan ini kami menyatakan dan memberikan kasaksian dengan keterangan sebagai berikut, satu bahwa kami benar mengatahui saudara Purwanto alias capung pada hari Rabu tanggal 7 juni 2017 sekitar pukul 9 malam sampai dengan pukul 1 malam bersama kami dalam rangka kegiatan pengisian formulir pendaftaran anggota partai golkar (FPAPG) yg diadakan di dusun 9, Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, Deliserdang” tegas Nanang, mewakili kader Golkar lainnya.

Kedua, lanjutnya, bahwa seluruh kader siap bertanggungjawab untuk dimintai keterangan sebagai saksi di hadapan hukum .

“Demikian pernyataan ini kami perbuat dengan pikiran sehat jasmani dan rohani tanpa paksaan ataupun tekanan dari pihak lain” tandasnya

Sebagai bentuk perlawanan untuk mencari keadilan juga, jajaran pengurus PK Golkar Kecamatan Batang Kuis ini juga berencana mengajukan penangguhan penahanan terhadap Purwanto setelah langkah pihak kepolisian dinilai tidak berdasar.

“Dalam waktu dekat kita juga akan melaporkan kasus ini ke Propam Poldasu sekaligus mempersiapkan praperadilan agar kasus ini bisa jelas” pungkasnya.

Sebelumnya, Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Batang Kuis, mengaku kecewa dengan sikap Polres Deliserdang yang dituding terlalu memaksakan menangkap dan menahan seorang kadernya yang dituduh melakukan tindak pidana penganiayaan yang terjadi pada hari Rabu, 7 Juni 2017 lalu.

Akibatnya, sang kader bernama Purwanto alias Capung (40), penduduk Dusun VIII, Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, terhitung mulai tanggal 8 Agustus 2017, harus mendekam dibalik penjara setelah ia ditangkap sehari sebelumnya.

Kekecewaan ini diungkapkan Ketua PK Partai Golkar Batang Kuis, Bayu Anggara SH kepada wartawan Rabu (16/7). Menurutnya, penangkapan dan penahanan anggotanya jelas cacat hukum dan tidak sesuai dengan prosedur.

“Kita mau tahu sejauh apa sangkaan yang dituduhkan pihak kepolisian. Karena sejauh ini tidak ada transparansi selama proses pemeriksaan. Apalagi tidak ada satupun dari pihak kita yang diperiksa menyangkut kasus ini, termasuk si capung ini yang dijadikan tersangka, belum pernah sekalipun dia diperiksa, tiba-tiba saja ditangkap” ungkap Bayu kecewa.

Padahal, lanjutnya, pada peristiwa bentrokan yang terjadi pada tanggal 7 Juni 2017 di areal lahan garapan Jalan Arteri, Batang Kuis hingga menyebabkan jatuhnya korban bernama Sanimin, pria yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka itu dipastikannya tidak berada di tempat.

“Pada saat kejadian itu, di hari yang sama dan waktu yang sama, Purwanto ikut rapat Golkar bersama saya di dusun sembilan Desa Sena. Jadi apa dasarnya tuduhan ke dia? Saya curiga ini sudah direkayasa dan sengaja by design untuk menjerat anggota kami. Kalau dikatakan polisi sudah meriksa 15 orang saksi, saksi yang mana? Kalau dari pihak korban jelas sepihak, karena sampai sekarang pihak dari kami tidak pernah diperiksa sekalipun” kecamnya.

Hal lain yang turut memicu kecurigaan, kata Bayu, pada saat pemeriksaan terhadap tersangka Tato, ia turut mengakui pada saat bentrokan itu terjadi tersangka Purwanto tidak berada di tempat.

“Inikan sama saja penyidik Polres Deliserdang seperti menembak di atas kuda. Jadi siapa yang kena suka-suka mereka sehingga orang yang tidak bersalahpun turut dirampas kemerdekaanya. Lagipula, kenapa sudah dua bulan kasus ini terjadi, baru Purwanto ditangkap, padahal dia tak kemana-mana” ucapnya lagi.

“Keterlibatannya tidak jelas, tapi pihak polres dengan seenaknya menjerat dia (purwanto) dengan pasal 338 yo pasal 53 atau pasal 187 ke 1e atau pasal 170 ayat (2) yo pasal 351 ayat (2) atau pasal 160 KUHPidana. Penegakan hukum yang sangat memprihatinkan ini” pungkasnya.

Karena itu, sebagai bentuk kekecewaan jajaran Partai Golkar Batang Kuis, dikatakan Bayu, dijadwalkan pada Senin, 21 Agustus 2017 mendatang, pihaknya akan melakukan aksi damai ke Mapolres Deliserdang di Lubukpakam.

“Kami akan mempertanyakan dasar hukum penangkapan dan penahanan terhadap Purwanto. Jika memang tidak ada titik temu, kami berencana akan mempraperadilankan masalah ini” ancam Bayu. Yan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here